Dramaturgi XIV: Mega-Mega
Dramaturgi XIV: Mega-Mega
Kata drama berasal dari bahasa Greek: tegasnya dari kata kerja dram yang berarti “berbuat, to act atau to do”. Demikianlah dari segi etimologinya, drama mengutamakan perbuatan, gerak, yang merupakan inti hakikat setiap karangan yang bersifat drama. Maka tidak usah kita heran kalau Moulton mengatakan bahwa “drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak” (life presented in action) ataupun Bathazar Verhagen yang mengemukakan bahwa “drama adalah kesenian melukis sifat dan sikap manusia dengan gerak” (Slametmuljana dalam Tarigan, 1985: 70).
Dramaturgi menurut wikipeda sendiri ialah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Akan tetapi Dramaturgi yang dimaksudkan di sini jelas memiliki sedikit perbedaan dengan Dramaturgi yang dimaksudkan dengan wikipedia. Dramaturgi di sini ialah mata kuliah jurusan Sastra Indonesia akan tetapi pada tujuan akhir mata kuliah ini juga akan menampilkan sebuah pementasan teater atau drama.
Mata kuliah Dramaturgi tahun ini akan melakukan pementesan ke-14 dengan tema “Bantara Sastra, Citraloka Budaya”, setelah pementasan berturut-turt dari tahun ke tahun. Naskah drama yang akan dipentaskan berjudul Mega-Mega karangan dari Arifin C Noer. Mengisahkan tentang sosok Mae yang hidup sendirian di kota Solo. Ia ingin sekali menjadi seorang ibu di kalangan para gelandangan di sekitarnya yang usianya memang lebih muda dari Mae. Mae sebenarnya sangat menyayangkan nasib Retno, perempuan muda yang sebenarny ia cukup cantik di kalangan gelandangan, tetapi hidupnya menjadi pekerja seks komersial. Mae juga selalu menasehati gelandangan lainnya, kepada Panut agar tidak menjadikan pencopet sebagai pekerjaannya. Selain itu ada Hanung, seorang penyandang cacat kaki, yang masa kecilnya ia habiskan di panti asuhan. Tukijan adalah seorang yang memiliki cita-cita membuka hidup baru di Sumatra. Terakhir ada tokoh bernama Kojal yang selalu berkahayal memiliki banyak uang yang melimpah, akan tetapi ia selalui menghabiskan uangnya untuk membeli kupon undian lotre.
Dramaturgi pada tahun ini akan menampilkan sebuah pementasan drama yang lebih condong pada kondisi orang-orang pinggiran di sebuah kota, yang kebanyakan dari mereka hidup sebagai gelandangan dan menggantungkan hidup mereka pada pencahayaan lampu malam di kota Solo. Pemilihan naskah tersebut sebenarnya ialah bentuk upaya dari kritik sosial yang berada di lingkungan sekitar, banyak sekali kemiskinan yang terjadi akan tetapi seakan kita semua acuh tak acuh pada hal tersebut, sehingga jika terjadi hal kriminal seakan merekalah yang paling disalahkan, padahal ada sebuah keadaan mendesak yang menyebabkan mereka berbuat kriminal.
Adapun proses sebelum pementasan. Biasanya pementasan akan dilakukan di gedung teater yang berada di Surabaya. Setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah Dramaturgi akan mendapatkan bagiannya masing-masing dalam pembentuan tim pementasan. Selama 14 pertemuan mata kuliah tersebut akan di isi dengan tahapan-tahapan menuju pementasan, seperti tim asrtistik akan mempersiapkan properti-properti yang dibutuhkan saat pementasan, baik propeti panggung maupun kebutuhan dari aktornya. Selain itu semua juga tidak lepas dari tim manajemen yang mempersiapkan kesuksesan acara, mulai dari peminjaman tempat, dokumentasi, dan masih banyak lainnya.
Selain puncak mata kuliah ialah menampilkan pementasan teater atau drama, juga melatih para mahasiswa untuk bekerja tim. Mempersiapkan pementasan menuju hari-H sangat banyak hal yang perlu disiapkan. Tentunya hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh setiap individu, perlunya kerjasama untuk tercapainya kegiatan tersebut. Maka selain kreativitas yang ditonjolkan selain itu kerjasama juga sangat ditekankan pada mata kuliah Dramaturgi tersebut.


