Fakultas Ilmu Budaya

image

Perang Dingin tidak hanya berdampak pada negara Blok Barat dan Blok Timur pada saat itu. Layaknya istilah “winter is coming” dalam serial Game of Thrones, Perang Dingin benar-benar hadir di Indonesia yang notabene mendaku diri sebagai negara Non-Blok. Dimulai dari Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang kemudian mengubah segala aspek jalan hidup republik yang baru berdiri tersebut.  “Supersemar ini sebuah peristiwa yang saya kira menjadi tonggak dari perjalanan Bangsa Indonesia ya, dan peristiwa memang itu terjadi saat Kota Jakarta dalam situasi chaos”, jelas Prof. Purnawan Basundoro. Paska terjadinya G30S, situasi di Indonesia, khususnya Jakarta, memang tidak terkendali. Jakarta sebagai Ibu Kota negara dilanda demo besar-besaran yang dimotori oleh mahasiswa dengan tuntutan pembubaran Partai Komunis Indonesia. Partai Komunis Indoneseia sendiri dianggap sebagai dalang dari peristiwa Gerakan 30 September.

“Ketika Surat Perintah Sebelas Maret itu keluar, memang kondisinya itu kan serba tidak menentu. Di satu sisi, yang dianggap sebagai dalang dari peristiwa G30S itu belum ditangani dan di sisi lain, ada protes dari mahasiswa yang menginginkan agar aktor dari pelaku peristiwa G30S itu bisa segera ditangani. Ditambah dengan situasi ekonomi yang saya kira kondisinya memang tidak menguntungkan pada waktu itu, harga-harga melambung tinggi”, lanjut Prof. Purnawan Basundoro. Dengan kondisi tersebut, Soeharto kemudian mengutus M. Joesoef, Basoeki Rahmat, dan Amir Machmoed untuk datang menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Dari pertemuan di Istana Bogor tersebut, Presiden Soekarno kemudian membuat surat perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto yang pada waktu itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Surat tersebut ditulis pada tanggal 11 Maret 1966 yang kemudian dikenal dengan istilah Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret.

Setelah dikeluarkannya Supersemar, banyak peristiwa yang terjadi di luar kendali Presiden Soekarno. Soeharto mulai melakukan “pembersihan” terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Banyak dari “pembersihan” tersebut kemudian menjadi tak terkendali dan merambah setiap daerah yang berujung pada pembunuhan massal. Kekuasaan Soekarno semakin hilang sejak adanya Supersemar dan pergerakan yang dilakukan oleh Soeharto. Hingga akhirnya, Presiden Soekarno diberhentikan dan digantikan oleh Soeharto.

Supersemar, meskipun terkenal, sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Di instansi arsip milik pemerintah, Arsip Nasional Republik Indonesia, terdapat beberapa Supersemar yang dinyatakan tidak asli. “Secara umum, masyarakat sudah tahu bahwa naskah asli dari Surat Perintah Sebelas Maret itu tidak pernah ditemukan, Seperti apa wujudnya, isinya sebenarnya seperti apa dan lain sebagainya”, jelas Profesor yang juga menjabat sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya tersebut. Sebagai Warga Negara Indonesia yang melek sejarah, kita tentunya akan melakukan berbagai cara agar peristiwa kelam tersebut tidak terulang kembali. Selain itu, kita dapat belajar bahwa dokumen merupakan sesuatu yang sangat penting sebagai bukti dalam kajian sejarah. Oleh karena itu, sadar pengarsipan menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan khususnya dalam berbangsa dan bernegara. (obt)

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?