Fakultas Ilmu Budaya

image

Selain buku, film juga menjadi salah satu hiburan favorit sekaligus media transfer ilmu di dalamnya. Kita dapat belajar banyak hal dengan menonton film, misalnya budaya, bahasa, ideologi, politik, psikologi, dan sejarah. Apabila kita menonton film buatan Inggris, tentunya kita akan banyak belajar dari Inggris, misalnya yang paling kentara adalah aksen British English-nya. Selain itu, yang menarik dari film adalah rasa penasaran dan tidak bosan apabila diulang kembali, khususnya untuk film yang kita suka. Salah satu contoh adalah serial anime buatan Jepang yaitu One Piece. One Piece yang kita tonton pada saat kecil tentunya akan memberikan pengalaman yang berbeda ketika kita tonton saat kita telah dewasa. Permasalahan sederhana, misalnya sekadar berpindah dari satu pulau ke pulau lain untuk bertengkar, berkembang menjadi permasalahan yang kompleks seperti penindasan, isu rasial, konspirasi, dan pembungkaman sejarah.

Setiap tanggal 30 Maret, kita memperingati hari film nasional yang didasarkan pada pembuatan film Darah dan Doa. Pembuatan film Darah dan Doa digunakan sebagai peringatan hari film nasional karena Darah dan Doa merupakan film pertama yang disutradarai, diproduksi, dan dimainkan oleh bumiputera. “Tanggal 30 Maret 1950 menandai awal pengambilan gambar untuk film Darah dan Doa yang disutradarai oleh Usmar Ismail”, jelas Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Sebenarnya sudah ada film-film yang mengangkat cerita lokal pada saat itu, namun yang memproduksi orang Eropa, bukan bumiputera. Salah satu contohnya adalah Film Lutung Kasarung yang diproduksi pada tahun 1926. Selanjutnya pada tahun 1928 terdapat film Lily Van Java yang diproduksi oleh orang Tionghoa. Setelah memasuki masa pendudukan Jepang, film yang diproduksi sebagian besar ditujukan untuk kepentingan pemenangan perang dunia kedua oleh Jepang. Sehingga, banyak yang kemudian setuju bahwa pembuatan film Darah dan Doa merupakan tonggak perfilman nasional.

Penetapan hari film nasional terjadi setelah dua belas tahun pembuatan film Darah dan Doa tepatnya pada tanggal 11 Oktober 1952. “Penetapan hari film nasional jatuh pada 30 Maret 1950, ditetapkan pada saat Konferensi Dewan Perfilman Nasional pada tanggal 11 Oktober 1962”, lanjut Ikhsan Rosyid.  Selain pembuat dan pemain film yang merupakan orang bumiputera, cerita dalam film Darah dan Doa juga menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia pada masa revolusi.

Film memang mempunyai daya magis yang luar biasa bagi penontonnya yang tak jarang memengaruhi alur sejarah suatu masyarakat. Film 3 Idiots membuat orang yang menontonnya berpikir kembali ‘apakah sistem pendidikan yang selama ini dijalankan sudah sesuai dengan yang kita harapkan?’, Film PK (Pee Kay) akan membuat orang berpikir ‘apakah cara beragama kita sekarang ini sudah benar?’, film The Look of Silence (Senyap) akan membuat orang Indonesia yang selama ini sangat membenci komunis berpikir ulang ‘apakah hanya karena mempunyai ideologi berbeda, orang lantas boleh dibunuh?’. Sutradara film tersebut, Joshua Openheimer, bahkan sampai sekarang tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di tanah Indonesia. Film V for Vendetta mengenalkan penontonnya dengan gerakan anarkisme yang akhir-akhir ini sedang menjamur di kalangan anak muda. Film Dokumenter Indonesia Calling menceritakan bahwa perjuangan melawan  penindasan kolonialisme merupakan perjuangan internasional agar buruh-buruh India, Tionghoa, dan buruh-buruh lainnya yang bekerja di Pelabuhan Sydney Australia melakukan mogok besar-besaran sehingga kapal yang mengangkut senjata untuk dikirimkan ke Indonesia gagal berlayar. Film Surat dari Praha bercerita pada kita bahwa terdapat banyak sekali sarjana yang mendapat beasiswa pada masa Presiden Soekarno namun tidak bisa pulang ke Indonesia karena menolak pemindahan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.

Begitulah beberapa film yang mempunyai daya magis luar biasa bagi penontonnya. Layaknya buku yang wajib menjadi santapan bagi sivitas akademika, film pun sama. Akhir kata, jaya selalu perfilman nasional, selamat hari film nasional. (obt)

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?