Fakultas Ilmu Budaya

image

Prof. Diah Ariani Arimbi, M.A., Ph.D. saat menjawab pertanyaan dari salah satu peserta Seminar Humaniora edisi perdana.

Riset merupakan salah satu amanat tri dharma perguruan tinggi yang harus dilaksanakan oleh masyarakat kampus dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Bentuk konkret pengembangan ilmu pengetahuan dimanifestasikan dalam berbagai rupa luaran penelitian, mulai dari buku, jurnal, makalah, sampai dengan diseminasi hasil riset.

Di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), aktivitas penelitian yang para dosen terbilang produktif sehingga dibutuhkan ruang diseminasi untuk memaparkan hasil riset di samping tetap memproduksi buku maupun jurnal sebagai luaran penelitian. Karena itu, FIB Unair kembali menyelenggarakan Seminar Humaniora (SENARAI) guna memberikan panggung bagi para dosen untuk mempresentasikan penelitiannya kepada publik.

Seminar edisi perdana ini dilaksanakan pada 20 April 2021 dengan menghadirkan narasumber dua guru besar FIB Unair, yakni Prof. Diah Ariani Arimbi, M.A., Ph.D. yang menyampaikan materi “Beauty East, Beauty West: Muslim Beauty in Indonesia Islamic Magazine” dan Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum. yang memaparkan materi “Masa Lalu Kota dalam Lagu-Lagu Indonesia”. Forum diskusi ini dihadiri oleh puluhan dosen dan mahasiswa FIB Unair serta beberapa sivitas akademika dari kampus lain.

Memperoleh giliran pertama presentasi, Prof. Diah Arani Arimbi, M.A., Ph.D. menyoroti majalah-majalah Islam yang menampilkan wajah-wajah kecantikan perempuan muslim. Menurut Prof. Diah, penampilan wajah di majalah kecantikan difungsikan untuk membentuk standar kecantikan bagi pembacanya sehingga representasi kecantikan yang dipampang dalam majalah Islam memengaruhi persepsi perempuan muslim terhadap konsep kecantikan.

“Konsep kecantikan bagi muslimah indonesia merupakan konstruksi sosial dan budaya yang tidak hanya ada dalam konteks lokal indonesia tetapi juga dipengaruhi oleh dunia islam (tengah) timur. Hal ini membentuk watak konsumerisme perempuan islam atas fesyen, tren, dan femininity namun tetap sesuai dengan interpretasi ajaran agama sehingga standar kecantikan baru terbangun dalam persepsi muslimah Indonesia”, jelas Guru Besar Bidang Kajian Budaya dan Gender tersebut.

Sementara itu, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum. mengemukakan materi unik, yakni tentang beberapa lagu (lama) Indonesia yang ternyata tercipta dari hasil pembacaan atas realitas keadaan masa lalu suatu kota. Guru Besar Bidang Sejarah Kota tersebut mengungkapkan bahwa suatu lagu tercipta tidak lahir dari suatu ruang kosong. Banyak lagu yang tercipta berkat tangkapan realitas suatu kota yang meliputi transportasi, kondisi jalan, makanan, dan alam.

“Setidaknya terdapat tujuh lagu masyhur yang liriknya menceritakan tentang Kota Yogyakarta, salah satunya milik Jogja Hip Hop Foundation yang berjudul Jogja Istmewa. Sementara itu di Kota Surabaya, lagu Rek Ayo Rek ciptaan Is Haryanto sangat terkenal. Lagu tersebut, populer pada tahun 1970-an, menangkap realitas bahwa Jalan Tunjungan di jantung Kota Surabaya kala itu masih menjadi ruang yang nyaman untuk jalan-jalan bersenang-senang bersama kawan-kawan”, papar Dekan FIB Unair periode 2020-2025 tersebut.

Menurut informasi, Seminar Humaniora dalam pekan ini telah dijadwalkan akan diselenggarakan dua kali lagi, yakni pada tanggal 21 dan 22 April dengan narasumber dari dosen-dosen program studi di lingkungan FIB Unair. (slh)

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?