Fakultas Ilmu Budaya

image

Dr. Listiyono Santoso, S.S., M.Hum., saat mengawali pemaparan materinya pada webinar nasional perpustakaan dalam rangka dies natalis ke-66 Perpustakaan Unair.

Perpustakaan di lingkungan kampus memiliki posisi vital untuk keberlangsungan aktivitas ilmiah akademis. Denyut kontribusi ilmiah sivitas akademika dalam payung tri dharma perguruan tinggi bergantung pada performa kinerja pelayanan dan program kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan kampus.

Perpustakaan Universitas Airlangga (Unair), salah satu destinasi favorit sivitas akademika untuk menghabiskan waktu selama berkegiatan di kampus, pada 1 April 2021 yang lalu telah menginjak usia ke-66 tahun. Pada usianya yang matang, Perpustakaan Unair terus berikhtiar meningkatkan mutu pelayanan dan menyelenggarakan program untuk menumbuhkembangkan kemampuan literasi masyarakat kampus di tengah kepungan pandemi Covid-19.

Dalam rangka merayakan dies natalisnya tahun ini, Perpustakaan Unair menyelenggarakan webinar nasional perpustakaan dengan tema “Membangun Tradisi Menulis bagi Masyarakat Akademik” pada 7 April 2021 di ruang zoom cloud meeting. Webinar diikuti ratusan peserta (masyarakat akademik) dari berbagai institusi pendidikan tinggi. Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber penulis produktif dari Unair dan UGM, yaitu: Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair, Ida Fajar Priyanto, BA. MA. Drs. Ph.D., Pakar bidang Perpustakaan dan Dosen Universitas Gadjah Mada, dan Dr. Listiyono Santoso, S.S., M.Hum., Dosen sekaligus Wakil Dekan I FIB Unair. Prasetyo Adi Nugroho, S.Sos dari pengurus Perpustakaan Unair mendampingi para narasumber sebagai moderator.

Dr. Listiyono Santoso, S.S., M.Hum. pada sesi pemaparannya menyampaikan materi berjudul “(P/K)oin Menulis bagi Masyarakat Akademik: Kita Dapat Apa?”. Dalam materi tersebut, Pak Lis menyampaikan definisi dan ciri-ciri masyarakat akademik beserta tanggung jawabnya, bahwa tanggung jawab belajar masyarakat akademik adalah untuk menemukan kebenaran dan diabdikan kepada kepentingan masyarakat luas. Salah satu bentuknya adalah dengan membuat karya tulis yang dipublikasikan di media massa. “Menulis itu merupakan jantungnya masyarakat akademik. Tulisan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, karena itu ide gagasan yang dituliskan akan membuat persoalan terselesaikan dengan baik”, ujar Pak Lis.

Pak Lis menambahkan bahwa untuk menjadi penulis, setiap orang harus memiliki kemauan menulis, motivasi, pengetahuan, dan kemampuan. Sering dijumpai, orang enggan menulis karena terbelenggu oleh dinding imajiner seperti ketakutan, dalih, kebiasaan negatif, zona nyaman, bahkan kemalasan. Padahal, menulis itu penting kaitannya dengan olah pikir dan olah rasa sebagai makhluk berbudaya serta menguatkan kemampuan intelektualitas dan kematangan emosionalitas. Selain itu, melalui karya tulis yang dilahirkan, penulis juga memperoleh poin sekaligus koin keuntungan.

“Menulis bagi masyarakat akademik ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Secara ekonomis, tulisan yang terbit akan mendapatkan royalti maupun honorarium/insentif. Sedangkan secara reputasi akademik, (menulis) berguna untuk jenjang karir, membangun profil, hingga berkontribusi kepada ilmu pengetahuan”, imbuh penulis buku Teologi Politik Gus Dur tersebut.

Pada sesi yang lainnya secara berturut-turut, Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., menyampaikan materi “Peran Sivitas Akademika pada Peningkatan Publikasi Ilmiah di Perguruan Tinggi” dan Ida Fajar Priyanto, BA. MA. Drs. Ph.D., memaparkan materi “Peran Perpustakaan dalam Mendukung Visibilitas Publikasi di Perguruan Tinggi”. (slh)

`

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?