Fakultas Ilmu Budaya

image

Oleh: Pradipto Niwandhono

Kalau ada tokoh yang layak dikisahkan karena berhubungan dengan minat saya akan kajian esoteris dan relevan dengan topik besar tesis doktoral saya mengenai sosialisme, orang itu adalah Annie Besant (1847-1933). Ia merupakan seorang aktivis perempuan asal Inggris yang juga pernah menjadi pimpinan gerakan Teosofi internasional selama lebih dari dua dekade pada awal abad ke-20. Di samping itu, tidak bisa diabaikan bahwa Besant juga meninggalkan pengaruh pada gerakan emansipasi politik India menuju kemerdekaan dari imperialisme Britania, di samping tokoh-tokoh nasional India seperti Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru.

Ia dilahirkan sebagai Annie Wood di London pada tanggal 1 Oktober 1847 dari keturunan Irlandia. Hal ini turut membentuk simpati personalnya terhadap perjuangan kebebasan Irlandia dari dominasi Inggris. Annie dibesarkan dalam keluarga Kristen religius. Ia menikah dengan Frank Besant, seorang pendeta Anglikan, pada usia 20 tahun (1867) dan memiliki dua orang anak. Ia kemudian mulai mempertanyakan banyak dogma Kristiani termasuk keilahian Kristus. Perubahan pandangan Annie Besant — sebagaimana ia kemudian dikenal – yang lebih dekat dengan atheisme dan irreligiusitas terjadi setelah pertemuan dan hubungannya dengan Charles Bradlaugh, seorang tokoh free-thinker dari National Secular Society, dan majalahnya, “The National Reformer”, sekitar tahun 1874. Perubahan tersebut agaknya telah mendorong Annie berpisah dari suaminya, meski mereka tidak bercerai secara resmi dan Annie tetap menyandang nama “Nyonya Besant” hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, Annie Besant sepenuhnya terjun menjadi aktivis dan penulis untuk The National Reformer.

Selama periode keanggotaannya dalam organisasi Natural Secular Society, Annie Besant banyak terlibat dalam memperjuangkan gagasan tentang pengendalian kelahiran khususnya di kalangan kelas pekerja. Bersama Bradlaugh, ia menerbitkan risalah lama Charles Knowlton “The Fruit of Philosophy” (1877) dan ikut mendirikan Liga Malthusian untuk mengkampanyekan kesadaran akan pengendalian populasi, perencanaan kehamilan (reproduksi), dan pengguanaan alat kontrasepsi. Meski cukup populer di antara kaum feminis, pada waktu itu gagasan-gagasan ini masih relatif kontroversial dan dianggap bertentangan dengan agama sehingga Besant dan Bradlaugh sempat ditahan pihak berwajib dan diadili. Di sisi lain, kasus tersebut justru membuat keduanya dikenal dan mendapat dukungan luas dari kalangan pers liberal. Meskipun Besant bebas dari hukuman penjara, ia kehilangan hak asuh atas anak-anaknya karena dianggap ‘tidak bermoral’. Bradlaugh kemudian melanjutkan karirnya sebagai anggota parlemen dari faksi liberal sementara Annie Besant makin bergerak pada aksi-aksi politik praktis yang cenderung ke kiri.

 

Annie Besant dan Sosialisme Fabian

Akhir abad ke-19 ditandai dengan perkembangan pesat pergerakan buruh dan sosialisme termasuk sosialisme demokratik yang bermula di Jerman dan kemudian meluas ke berbagai negara Eropa Barat. Di Inggris, kelompok sosialis yang paling berpengaruh ialah Fabian Society yang didirikan pada tahun 1883 oleh Sidney dan Beatrice Webb. Kelompok ini kemudian didukung pula oleh penulis dan sastrawan George Bernard Shaw (1856-1950). Berbeda dengan organisasi sosial demokrat lain yang lebih memiliki koneksi pada gerakan kelas pekerja, Fabian Society merupakan kelompok elitis yang terdiri dari para intelektual kelas menengah dari berbagai bidang. Kelompok Fabian ini jugalah yang kemudian menjadi pelopor dari London School of Economics, suatu lembaga ‘think-tank’ kajian ekonomi-politik paling berpengaruh di Eropa Barat.

Pada awal tahun 1880-an, Annie Besant mulai berhubungan dengan kelompok Fabian karena kedekatan personalnya dengan George Bernard Shaw. Besant sendiri resmi masuk dalam keanggotaan Fabian Society pada Januari 1885 dan sejak itu ia rutin mengikuti diskusi dan menulis untuk organisasi tersebut. Pada awalnya, gerakan Fabian masih bersifat murni intelektual dan kurang politis. Dalam perkembangannya, elemen politik makin kuat dalam berbagai isu yang diangkat. Masalah pengangguran dan hak otonomi untuk Irlandia adalah beberapa di antara persoalan krusial pada waktu itu. Kebijakan Perdana Menteri Britania, William Gladstone, untuk mendukung otonomi Irlandia menimbulkan reaksi di Majelis Rendah berupa penerbitan undang-undang represi sementara krisis ekonomi yang melanda Eropa juga mengakibatkan banyak kaum buruh kehilangan pekerjaan. Pada tanggal 13 November 1887, terjadi peristiwa “Minggu Berdarah” (Bloody Sunday) ketika para pekerja yang menganggur mengadakan demonstrasi besar di Trafalgar Square, London sehingga mengakibatkan kericuhan dan jatuhnya korban. Unjuk rasa digerakkan oleh Social Democratic Federation dan melibatkan beberapa tokoh Fabian Society termasuk Annie Besant. Pemerintah dan pihak berwajib bereaksi dengan menangkap sekitar 300 orang pengunjuk rasa

Meski dalam peristiwa tersebut Annie Besant tidak ditahan oleh pemerintah, kejadian itu membuatnya semakin jauh terlibat dalam aktivisme politik. Hanya beberapa saat setelah insiden di Trafalgar Square, Besant membentuk Law and Liberty League (Liga Kebebasan dan Hukum) untuk mendukung kebebasan berbicara (freedom of speech) dan berkampanye untuk para politisi yang mendukung misi yang sama. Ia ikut serta dalam peristiwa pemogokan buruh pabrik korek api milik perusahaan Bryant and May (Juli 1888). Di lain sisi, ia kemudian terlibat dalam perkumpulan Social Democratic Federation yang berhaluan Marxis dan lebih radikal dari perkumpulan Fabian yang reformis.

 

Kepemimpinan dalam Perkumpulan Teosofi

Di antara beberapa gagasan Annie Besant, mungkin tidak ada yang lebih ‘radikal’ dari konversinya dari seorang pemimpin gerakan sayap kiri menjadi seorang teosof yang bersemangat dalam mendukung persaudaraan spiritual kemanusiaan. Hal ini berawal ketika ia diminta untuk membuat tinjauan buku “The Secret Doctrine” (1888) karya Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891). Ketika itu, ia mulai merasa bahwa meski memberi solusi ekonomis terhadap kondisi kemanusiaan, sosialisme tidak memberi landasan spiritual yang cukup kuat. Ia ingin mewujudkan suatu “persaudaraan” di mana pengabdian pada kemanusiaan akan menjadi tujuan utama, menggantikan prinsip pengabdian pada Tuhan (personal)’. Hal tersebut telah mengantarkannya pada pembacaan beberapa risalah spiritual. Namun, baru setelah membaca karya Madame Blavatsky, Besant merasa tergugah dan memutuskan untuk memasuki Perkumpulan Teosofi (Theosophical Society) pada tanggal 10 Mei 1889. Ia segera menemui Blavatsky yang segera mengenali Besant sebagai aset berharga bagi pengembangan gerakan Teosofi. Dalam waktu singkat, Annie Besant menjadi salah satu murid utama Blavatsky dan anggota dari lingkaran dalam seksi esoteris perkumpulan Teosofi sekaligus menjadi ko-editor dari majalah bulanan organisasi bertajuk ‘Lucifer’. Keputusan Annie Besant untuk masuk dalam organisasi Teosofi dengan demikian mengakhiri keanggotaannya dalam Fabian Society. Charles Bradlaugh, mitra lama Besant, mengekspresikan kekecewaan akan keputusan Besant untuk memperjuangkan hal yang baginya sama sekali ‘irrasional dan fiktif’. Hubungan keduanya berakhir tidak lama sebelum kematian Bradlaugh pada awal 1891.

Pada tahun yang sama tanggal 8 Mei, Blavatsky wafat dengan mewariskan pada Annie Besant posisi sebagai pimpinan gerakan Teosofi di Eropa sekaligus mengepalai seksi esoteris sementara Henry Steel Olcott menjadi presiden Theosophical Society di Adyar (India). Selanjutnya di tahun 1896, Besant meninggalkan Inggris dan mulai menetap di India Britania serta terlibat dalam berbagai aktivitas Teosofi maupun bidang pendidikan dan kebudayaan. Pengkajiannya akan ajaran Hindu dan bahasa Sanskrit kemudian menghasilkan penerjemahan naskah Bhagavad Gita dengan bantuan sarjana India, Bhagavan Das. Ia juga menggagas didirikannya pendidikan bagi para pemuda Hindu setempat dengan menggunaan bahasa Sanskrit sebagai bahasa pengantar. Hal ini berhasil direalisasikan dengan pembentukan Central Hindu College di Benares pada bulan Juli 1898 yang memiliki pengaruh kuat bagi pendidikan di India pada masa selanjutnya. Pembentukan lembaga pendidikan tersebut juga disusul dengan dibukanya sekolah Hindu untuk para perempuan sehingga Besant menjadi pelopor pendidikan Hindu untuk semua jenis kelamin di India.

Sejak kedatangannya di India, Annie Besant telah menjalin kemitraan erat dengan Charles Webster Leadbeater (1854-1934), seorang pendeta Anglikan dengan perhatian khusus pada berbagai aspek okultisme dan keparanormalan dalam Teosofi. Bersama Leadbeater, Besant menulis sejumlah risalah seperti “Occult Chemistry” (1908) dan “Talks On the Path of Occultism”(1926) di samping mengkaji sejumlah fenomena supranatural seperti reinkarnasi dan proyeksi astral. Namun, pencapaian utama dari kerjasama kedua teosof tersebut lebih pada pengembangan sejumlah organisasi baru yang berafiliasi dengan gerakan Teosofi dan sangat fungsional bagi pengembangan misi kaum teosof itu sendiri. Bagi Annie Besant, kehidupan dan karirnya dalam gerakan Teosofi tidak terlepas dari perjuangannya untuk memajukan peran perempuan di ruang publik. Pada September 1902, Besant membuka cabang Co-Freemasonry — organisasi masonik adoptif yang menerima keanggotaan lintas gender — di London. Melalui ordo masonik tersebut, Besant dan Leadbeater mendukung penyebaran pengaruh ajaran Teosofi dalam jaringan organisasi masonik maupun ritual-ritualnya.

Dengan wafatnya Henry Steel Olcott pada tahun 1907, Annie Besant menggantikannya sebagai pimpinan Theosophical Society. Selama kepemimpinannya, telah berlangsung sejumlah perkembangan yang cukup kontroversial dan mengakibatkan skisma pertama dalam gerakan Teosofi. Pada tahun 1909, Leadbeater membuat klaim kontroversial dalam kaitan dengan ajaran Teosofi mengenai kemessiahan dan ‘Guru Dunia’ (World Teacher) yang diidentifikasi sebagai Kristus dan Sang Maitreya (Buddha). Seiring dengan pergantian abad, terdapat keyakinan di kalangan teosof bahwa sosok tersebut akan bereinkarnasi ke dunia untuk menjadi guru spiritual manusia serta mempersiapkan umat manusia menuju tingkatan evolusi kosmik dan kemanusiaan yang lebih tinggi. Menurut ‘penglihatan’ Leadbeater, orang yang akan menjadi wahana inkarnasi selanjutnya adalah Jiddu Krishnamurti (1895-1986), seorang anak brahmana yang ditemuinya — dan kemudian diadopsi oleh Annie Besant. Pada tahun 1911, Leadbeater membentuk Ordo Bintang Timur (Order of The Star in the East) dengan tujuan mempersiapkan kedatangan Sang Guru Dunia.

Tidak semua pengikut Teosofi mau mengikuti kultus baru ini, khususnya orang-orang yang ingin mempertahankan ajaran Teosofi dalam bingkai spiritualitas Kristiani. Mereka menganggap ajaran ini sudah menyimpang dari asalnya. Pada tahun 1913, cabang Teosofi di Jerman dan Austria di bawah pengaruh Rudolf Steiner (1861-1925) memisahkan diri dan memproklamirkan berdirinya Perkumpulan Antroposofi (Anthroposophical Society). Ini adalah skisma untuk kedua kalinya setelah pemisahan Perkumpulan Teosofi di Pasadena (Amerika Serikat) yang dipimpin William Quan Judge pada tahun 1895 dari Perkumpulan Teosofi Adyar (India) di bawah pengaruh Henry Steel Olcott dan Annie Besant. Jiddu Krishnamurti sendiri, sebagai figur yang dipersiapkan menjadi inkarnasi Sang Maitreya, kemudian menolak klaim tersebut dan menanggalkan peran sebagai ‘calon messiah’. Pada tahun 1929, Krishnamurti membubarkan Ordo Bintang Timur yang dipimpinnya, mundur dari keanggotaan perkumpulan Teosofi, dan memulai karir sebagai salah seorang guru spiritual India yang paling terkemuka hingga akhir hayatnya

 

Perjuangan Kemerdekaan India dan Masa-Masa Akhir

Seiring dengan aktivitasnya dalam gerakan Teosofi, Annie Besant ternyata tidak meninggalkan aktvisme politiknya. Meski bukan lagi anggota Fabian Society, ia tetap mendukung gerakan otonomi atau pemerintahan sendiri (Home Rule) bagi Irlandia maupun India. Ia juga menjadi anggota Kongres Nasional India (Indian National Congress) yang didirikan pada tahun 1885. Organisasi tersebut menjadi corong utama pendukung kemerdekaan India dari kekuasaan imperium Britania. Meskipun merupakan perkumpulan nasionalis, banyak tokoh kongres yang terpengaruh oleh gagasan sosialisme demokratik dan penekanan pada prinsip keadilan sosial.

Dengan meletusnya Perang Dunia I dan Britania membutuhkan dukungan dari wilayah koloni, kesempatan tersebut dipergunakan untuk menekan pemerintah kolonial untuk memberikan otonomi lebih luas. Tahun 1916 ketika Irlandia menyatakan lepas dari Kerajaan Inggris Raya (United Kingdom), Annie Besant membentuk All India Home Rule League (Liga untuk Pemerintahan Sendiri Seluruh India), berbeda dengan Kongres Nasional India yang merupakan perkumpulan intelektual nasonalis, Liga tersebut bekerja lebih intensif membangun jaringan dan menggerakkan pertemuan publik, agitasi, dan demonstrasi menuntut pemerintahan sendiri. Pada Juni 1917, pemerintah kolonial India Britania menahan Annie Besant. Baik Kongres maupun Liga Muslim mengeluarkan ancaman bahwa mereka akan menggerakkan unjuk rasa jika pemerintah tidak melepaskan Besant. Pada akhirnya, pihak pemerintah membebaskan Annie Besant dan berjanji akan mewujudkan otonomi India secara bertahap. Besant sendiri kemudian diangkat sebagai pimpinan Kongres Nasional India selama setahun sebelum digantikan oleh Mohandas K. Gandhi, pengacara dan pejuang non-kekerasan India yang belum lama kembali dari Afrika Selatan.

Setelah mundur dari kepemimpinan Kongres Nasional India, Annie Besant kembali pada aktivitasnya sebagai teosof. Terdapat perbedaan cukup tegas antara visi politik Besant dengan generasi baru kaum pergerakan India di bawah pengaruh Gandhi dan kawan-kawan. Sebagai orang Inggris, Besant mendukung otonomi India dibawah persemakmuran Britania sementara Gandhi dan kawan-kawan menghendaki kemerdekaan penuh. Di samping itu, sebagai teosof pendukung gagasan persaudaraan universal kemanusiaan, ia menganggap bangsa India dan Inggris adalah mitra dan tidak semestinya kemitraan itu dicerai-beraikan karena pemutusan hubungan politik. (Catatan tambahan: pandangan sejenis juga dianut kaum asosiasi dan teosof di Hindia Belanda sementara generasi baru nasonalisme Indonesia yang lebih terpengaruh Marxisme rata-rata mengambil sikap non-kooperatif)

Keputusan Krishnamurti mundur dari peran sebagai ‘the next messiah’ dan gerakan Teosofi pada tahun 1929 sedikit banyak membuat Annie Besant terpukul meski hubungan personal keduanya tetap baik. Sejak saat itu, kondisi kesehatan Besant mengalami kemunduran hingga akhirnya wafat pada tanggal 20 September 1933 di Adyar dalam usia menjelang 86 tahun. Ia dikremasi di markas besar Theosophical Society dan abu jenazahnya ditebarkan di sungai Gangga.

 

Referensi :

Alexandra Heidle & Jan A.M Snoek (ed), “Women’s Agency and Rituals in Mixed and Female Masonic Orders’, Leiden, Brill, 2008

Ian Britain, “Fabianism and Culture : A study In British socialism and the arts c. 1884-1918”, Cambridge, Cambridge University Press, 1982

Joy Dixon, “Divine Feminine : Theosophy and Feminism in England”, Baltimore / London, Johns Hopkins University Press, 2001

Wouter J. Hannegraaff, et.al, (ed), “Dictionary of Gnosis and Western Esotericism”, Leiden, Brill, 2006

Foto: (1) Tiga Tokoh gerakan Teosofi dari kiri ke kanan : Henry Steel Olcott, Annie Besant, dan C.W Leadbeater (2) Autobiografi Annie Besant

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?