Fakultas Ilmu Budaya

image

Kamis, 26 April 2018, bertempat di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, telah diselenggarakan Seminar Nasional. Seminar ini diadakan oleh Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Tema yang diangkat dari Seminar ini adalah Perempuan dalam Tradisi Lisan dan Tradisi Tulis. Seminar ini dihadiri oleh dua orang yang berkompeten di bidangnya, beliau adalah Dr. Pudentia selaku Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) juga selaku Dosen Universitas Indonesia dan Junaini Kasdan Ph.D., selaku Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Seminar ini di moderatori oleh Dr. Trisna Kumala Satya Dewi, M.S., selaku dosen Sastra Indonesia dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan cabang Surabaya. beliau berharap bahwa dengan adanya kegiatan kerja sama antara ATL dan Sastra Indonesia UNAIR dapat memberi wawasan mengenai Tradisi Lisan dan Tulis pada Mahasiswa.

Pemapar materi pertama yaitu Dr. Pudentia menjelaskan bahwa Tradisi Lisan dan Tradisi Tulisan memang terdapat sebuah perbedaan yang cukup besar. Tradisi Lisan perlu diperhatikan karena pada masa kini banyak ‘suara’ yang hilang. Masyarakat tidak lagi peduli terhadap dongeng atau foklor yang mampu membangkitkan imajinasi. Ini akibat dari dunia yang homogen, semakin sedikit ‘suara’ yang didengar maka semakin berkurang warisan budaya yang dapat dijaga. “Ciri khas dari tradisi lisan terletak pada penampilan yang menyatukan penutur dengan penikmat yang terjadi dalam satu ruang dan satu waktu,” ujar Pudentia. Perempuan dalam tradisi lisan dapat berperan yang positif atau negatif, peran utama atau peran pembantu. Moral, pembuatan sesaji atau makanan adalah perempuan, tetapi yang melakukan suatu ritual adalah laki-laki.

Kemudian, Junaini Kasdan Ph.D., lebih membahas mengenai peribahasa Melayu. Menurut beliau terdapat 136 peribahasa tentang Perempuan dalam maklumat peribahasa Melayu. Peribahasa tidak hanya bisa dilihat secara harfiah atau sebagaimana artinya, karena di dalam peribahasa, merentas akal budi manusia yang ingin disampaikan oleh pengarangnya. Menurut Junaini Kasdan, Ph D Peribahasa muncul karena masyarakat ingin memberitahu dan berbentuk analogi Peribahasa merupakan teguran, hasrat hati, dan perasaan yang membawa makna dalam peribahasa adalah perempuan meski tidak ada elemen perempuan dalam peribahasa tersebut.

Lebih jauh, Junaini menjelaskan bahwa tahap pemaknaan peribahasa adalah tahap kognitif, tahap linguistik, dan tahap inkuintif. Peribahasa jika dikaji seacara semantik banyak mengandung unsur feminim, namun lebih banyak berisi makna negatif ketimbang positif. Karena wanita itu benar-benar dilindungi dan dianggap begitu sakral akhirnya munculah begitu banyak pantangan-pantangan untuk perempuan.

 

“Adapun unsur-unsur utama tradisi lisan, pelaku atau penutur atau pemain, penonton atau penikmat atau masyarakat, pendukung aktif dan pasif, dan pesan,” ujar Kasdan.

 

Acara seminar tersebut dimoderatori oleh Bapak Tubiyono, dosen linguistik Unair. Ada juga suguhan penampilan dari BSO Pakar Sajen, yaitu Paguyuban Karawitan Sastra Jendra FIB Unair dan pada akhir acara yang disuguhi oleh pengetahuan-pengetahuan dan informasi tentang tradisi lisan tanah Jawa, yaitu tembang-tembang yang telah menjadi tradisi tulis yang memiliki pakem dan dibukukan. Pelakon tradisi tersebut merupakan orang-orang hebat yang didatangkan dari Desa Kemloko, Kabupaten Blitar. Pada acara seminar nasional tersebut, juga mempromosikan tradisi budaya bernama Reog Bolkio yang merupakan seni pertunjukan khas Kabupaten Blitar serta dipromosikannya objek-objek wisata Kabupaten Blitar yang dipertontonkan lewat video profil Kabupaten Blitar.

 

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?