Fakultas Ilmu Budaya

image

Menempuh studi di Departemen Ilmu Sejarah FIB tidak hanya diekspresikan dengan tulisan, melainkan juga dengan perpaduan antara disiplin penampilan diri disertai pengetahuan sejarah bangsa yang mumpuni. Hasilnya, gelar Putra Majapahit 2018 pun diraih Mukti Bagus Pangunggah.
“Ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana.” Demikian Mukti Bagus Panggugah berujar. Mukti adalah mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya yang baru-baru ini berhasil memenangkan kompetisi Putra Majapahit Travel Fair 2018 yang diselenggarakan Glamour Modelling School. Adapun Majapahit Travel Fair ke-19 tahun 2018 merupakan acara tahunan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jawa Timur selama empat hari mulai Kamis, 12 April 2018 sampai Minggu, 15 April 2018 di Grand City, Surabaya. Mahasiswa yang gemar traveling ini mengaku telah tertarik menekuni dunia modelling sejak kelas 2 SMA. Ia juga mengakui bahwa ketertarikannya pada dunia modelling lebih dikarenakan sebagai sebuah sarana penyaluran hobi.
“Menurut saya, hobi yang dibayar itu enak ya, itulah kenapa saya suka modelling,” tambahnya.
Selain modelling, mahasiswa kelahiran Surabaya ini juga sangat menggemari sejarah. Itulah mengapa ia sangat suka bepergian mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan bahkan rela menunggu satu tahun untuk dapat mendaftar kembali di jurusan Ilmu Sejarah UNAIR setelah sebelumnya sempat tidak diterima.
Sebelum berhasil menjuarai Putra Majapahit Travel Fair, Mukti pernah mendapat juara harapan 2 foto batik. Selain itu, ia juga rajin mengikuti ajang-ajang seperti Mister Teen namun sayangnya tidak ada yang lolos satupun.
“Saya sampai berfikir apa sebenarnya kekurangan saya bila dibandingkan dengan mereka yang menang,” imbuhnya.
Namun, Mukti tetap tidak mau menyerah dan terus berusaha berproses mengembangkan bakatnya. Akhirnya ia mendaftar Putra Majapahit Travel Fair walaupun mendadak karena selain aktif kuliah ia juga bekerja. Ia bahkan baru mendaftar H-2 dari penyelenggaraan kompetisi tersebut.
“Saya terus berdoa sepanjang perjalanan untuk mendaftar dan bahkan menelefon Ibu saya untuk minta doa restu. Pada saat seleksi banyak peserta dengan skill modelling yang lebih bagus dari saya, namun saya memaksimalkan kemampuan menjawab pertanyaan karena saya lihat peserta lain kurang maksimal dalam sesi pertanyaan,” kenangnya.
Mukti juga mengakui bahwa ia memang bertekad ingin menang saat mengikuti Putra Majapahit Travel Fair. Ia bahkan tidak henti-hentinya berdoa dan memastikan sang Ibu merestuinya. Karena bagaimanapun, menurut Mukti, bila sang Ibu tidak merestui lebih baik tidak usah ikut saja karena restu ibu adalah hal paling utama baginya agar terhindar dari karma buruk.
“Namun saya tidak menyangka sedikitpun akan memperoleh juara pertama karena peserta lain yang basic modelling-nya bagus banyak,” tambahnya.
Mukti menyatakan bahwa motivasi terbesarnya mengikuti berbagai lomba modelling adalah untuk membanggakan Ibunya dan membuktikan kepada sang Ibu bahwa ia bisa menjadi juara. Akhirnya, pada saat ia masih berstatus sebagai mahasiswa baru, Ia berhasil menjadi Duta FIB 2017.
“Waktu itu saya sebenarnya tidak menyangka bisa menang dan menjadi Duta FIB 2017. Bahkan saat pengumuman pemenang, kaki kiri saya sudah maju saat dibacakan pemenang juara ketiga dan kedua. Namun ternyata justru saya dapat juara pertama. Dari situlah kemudian Ibu saya mulai support saya secara penuh untuk mengikuti lomba-lomba modelling,” imbuhnya.
Anggota Paduan Suara Universitas Airlangga ini juga mengakui pernah meraih juara 2 menyanyi keroncong Airlangga Cup tahun 2017. Selain aktif di PSUA UNAIR, Mukti juga mengikuti BSO LDS. Sementara untuk organisasi di luar kampus, ia pernah menjadi Wakil II Parade Cinta Tanah Air Provinsi Jawa Timur periode 2015-2016.
Ia juga mengakui bahwa impian terbesarnya adalah menjadi bermanfaat bagi sesama manusia dan menjadi inspirasi bagi sesama, serta membahagiakan dan membanggakan ibunya. Selain itu kedepannya, Mukti juga berencana untuk mengikuti pemilihan Cak dan Ning Surabaya.
“Tapi masih harus izin dulu dan konsultasi ke dosen wali apakah diizinkan atau tidak mengikuti karantina. Karena saya berfikir kalau saya mengikuti pemilihan Cak dan Ning Surabaya saya harus menang jadi kan perlu karantina,” tegasnya.

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?