Pemenang Lomba Sayembara Naskah Lakon Wayang Airlangga

  • By Super User
  • In Pengumuman
  • Posted 28 November 2016

Sang Ksatrya Mahapurusa


Setelah melalui proses penjurian yang cukup panjang, pemenang Sayembara Naskah Lakon Wayang Airlangga 2016 akhirnya berhasil ditentukan. Naskah berjudul Sang Ksatrya Mahapurusa karya Ampri Bayu Saputra dinobatkan sebagai yang terbaik dalam sayembara memperingati Dies Natalis Universitas Airlangga ke 61 ini.
Sayembara naskah lakon wayang Airlangga dirancang untuk menantang penulis maupun dalang untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dalam kisah pakem pewayangan yang didominasi kisah ramayana dan mahabarata, nama Prabu Airlangga tidak ada. Namun justru di situlah tantangannya. “Kami memang mengundang seniman-seniman dalang dan penulis untuk mengkreasikan dan membuat paduan pengetahuan mereka tentang sejarah nusantara, pakem wayang, dan tutur khas sastra,” ujar Adi Setijowati, ketua panitia sayembara ini. Demi mendapatkan naskah dari penulis-penulis yang mumpuni, Bu Adi, panggilan akrabnya, beserta tim panitia bahkan berkunjung ke beberapa institusi seperti komunitas dalang, komunitas sastra, dan ke beberapa perguruan tinggi yang memiliki program studi seni pedalangan. Hasilnya, panitia mendapatkan dua belas naskah dari dua belas penulis berbeda. Naskah tersebut kemudian dipelajari  dan didalami oleh tim juri beranggotakan dalang, akademisi sastra, dan doktor filsafat jawa.  
Menurut Bu Adi, Naskah Sang Ksatrya Mahapurusa dipilih sebagai yang terbaik karena beberapa hal. Pertama, garapannya sederhana dan bertumpu pada pakeliran tradisi. Kedua, menyertakan garapan sulukan wayang secara lengkap dengan partitur notasinya. Ketiga, bahasanya sederhana dan mudah dimengerti. Keempat, naskah tersebut juga dilengkapi dengan gending-gending. “Dasar garapan tradisi secara pakem jangkep akan memudahkan siapapun yang kelak memainkan naskah lakon ini.” Dua naskah lain yang menjadi pemenang kedua dan ketiga berjudul Sumilaking Medang Kauripan karya Aneng Kiswsntoro dan Airlangga Narapati karya Tatag Taufani Anwar.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Diah Ariani Arimbi, mengatakan bahwa sayembara naskah lakon wayang ini merupakan komitmen FIB terhadap warisan budaya tradisional, namun tanpa kehilangan karakter seni kontemporer. “Juga, kami percaya bahwa wayang akan semakin akrab dengan anak muda khususnya mahasiswa Unair, karena dalam lakon ini tokoh utama adalah seseorang yang namanya menjadi nama almamater,” pungkasnya. (kkh)

Hits 149