Fakultas Ilmu Budaya

image

Duta FIB Unair, Aldy dan Putri tengah memandu jalannya Tur Virtual FIB dalam rangkaian AEE 2021

Kreatifitas adalah salah satu nilai yang menjadi unggulan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) selama proses pembelajaran di kampus. Terlebih, di era disrupsi seperti saat ini, nalar kreatiflah nafas penting yang membuat seseorang tetap “hidup”.

Bentuk kreatifitas itu dipertontonkan oleh FIB Unair saat mengisi faculty info session dalam rangkaian Airlangga Education Expo (AEE) 2021. Di saat mayoritas fakultas lain menggunakan konsep webinar untuk memperkenalkan kampusnya, FIB Unair dengan ide cemerlangnya mampu menyedot perhatian publik dengan konsep tur virtual yang disisipi nuansa kebudayaan melalui kidungan dan games interaktif berhadiah dengan peserta. Alhasil, informasi seputar FIB Unair mulai dari program studi, prospek kerja, serta jejaring relasi kampus dapat diikuti dan tersampaikan dengan baik kepada para siswa SMA sederajat.

Di dalam rekaman video tur virtual pada 18 Februari 2021, partisipan diajak menjelajahi program studi yang ada di FIB Unair. Di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Gesang Manggala Nugraha Putra S.S., S.A., M. Hum., menjelaskan bahwa program studi yang diajarnya itu terdiri dari tiga peminatan, yakni Linguistik, Literatur, dan Kajian Budaya. Selain itu, program studi ini juga memiliki reputasi baik lewat akreditasi yang telah dikantongi.

“Nantinya, ketika berkuliah di Bahasa dan Sastra Inggris, kita tidak hanya belajar Bahasa Inggris, melainkan juga materi-materi lainnya yang berkaitan dengan kajian budaya dan literatur. Dan penting untuk diketahui, bahwa program studi ini sudah terakreditasi internasional (Accreditation Service for International Schools, Colleges And Universities) ASIC dan Asean University Networking-Quality Assessment (AUN-QA),” ucap dosen mata kuliah Contemporary Critical and Cultural Studies tersebut.

Di Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Bramantio, S.S., M.Hum., menerangkan tentang tiga peminatan yang dapat ditekuni, yakni Bahasa (Linguistik), Sastra, dan Filologi. Dosen mata kuliah Naratologi tersebut menegaskan bahwa alumni Bahasa dan Sastra Indonesia tidak perlu khawatir terkait prospek kerja karena banyak bidang pekerjaan yang memerlukan kompetensi kebahasaan.

“Selain tiga peminatan yang dapat dipilih, pada proses perkuliahan nantinya, mahasiswa juga dapat memilih beragam mata kuliah, mulai dari Dramaturgi (pementasan naskah drama), leksikografi, aneka bahasa asing (Perancis, Jepang, Belanda) dan bahasa daerah (Jawa, Madura, Sansekerta), bahasa jurnalistik, dan penulisan puisi. Terkait prospek kerja, alumni kita beragam ya, ada jurnalis, editor bahasa, akademisi, staff maupun pimpinan di instansi pemerintahan di bidang kebahasaan, dan tentu saja sebagai penulis,” paparnya.

Di program studi yang ketiga, para siswa berkunjung ke Departemen Ilmu Sejarah. Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., memberikan paparan terkait Museum Sejarah dan Budaya yang dapat diakses publik dan juga menjadi media penunjang pembelajaran di program studi tersebut. Sejak berdiri pada 1998, Departemen Ilmu Sejarah berfokus pada kajian Sejarah Perkotaan. Selain itu, program studi ini terus meningkatkan kualitasnya melalui penyusunan kurikulum dan akreditasi internasional agar mampu melahirkan alumni yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Koleksi museum di sini berasal dari berbagai wilayah dan rentang waktu mulai dari klasik hingga modern. Museum ini juga difungsikan untuk menunjang perkuliahan Museologi. Departemen ini secara berkala mendatangkan ahli sejarah dari luar negeri untuk mengisi kuliah tamu, dan saat ini sedang proses akreditasi internasional juga menyiapkan mata kuliah historypreneurship. Terkait prospek kerja, (mahasiswa) tak perlu khawatir. Setelah berkuliah di jurusan ini, kalian bisa menjadi arsiparis, kurator museum, akademisi, entertainer, dan lainnya,” ungkapnya.

Program studi yang terakhir adalah Studi Kejepangan. Rahaditya Puspa Kirana, S.Hum., M.Hum., menuturkan bahwa program studi ini mempelajari Bahasa Jepang serta sastra dan budaya Jepang dari periode klasik hingga modern. Selain itu, banyak jalinan kerjasama dengan universitas di Jepang sebagai mitra pengembangan kualitas akademik jurusan dan mahasiswa.

“Kami bekerjasama dengan Ashinaga untuk mendatangkan dua native speaker setiap tahunnya untuk menemani mahasiswa kita belajar Bahasa Jepang. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan beberapa universitas di Jepang seperti Iwate University, Osaka University, Kumamoto University, Kansai University dan Hiroshima University. Di sisi lain, juga ada beberapa kegiatan kemahasiswaan yang menunjang proses pembelajaran seperti praktik budaya minum the dan memakai yukata dan kimono” tuturnya.

Selain empat program studi S1, mahasiswa FIB Unair juga dapat mengikuti program fast track jika mampu memenuhi kualifikasi persyaratan selama berkuliah, salah satunya adalah meraih IPK 3,51. Melalui program unggulan ini, mahasiswa FIB Unair dapat meraih gelar S1 dan S2 hanya dalam kurun waktu lima tahun.(slh)

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?