Webinar Mollucans in The Nederlands: A Temporary Stay

image

Antara orang Maluku dan pemerintah kolonial Belanda terjalin hubungan yang dekat. Pada masa kolonial, orang Maluku menjadi salah satu kekuatan penting dalam militer (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger, KNIL) Belanda. Mereka terlibat dalam banyak ekspedisi militer di Nusantara termasuk dalam ekspedisi dalam rangka mengutuhkan wilayah koloni Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad kel-20 diantaranya di Aceh, Bali, dan Nusa Tenggara. Kedekatan ini juga terjalin karena banyak orang Maluku yang menjadi penganut agama Nasrani. Tak heran jika diaspora orang Maluku seperti di Surabaya selain bertugas di militer juga ada yang memiliki posisi dalam birokrasi pemerintah (ambtenaar).

Kedekatan hubungan ini berakibat pada terbentuknya mentalitas yang superior diantara beragam etnis lain di Nusantara. Superioritas ini tampak pada adopsi bahasa dan budaya Belanda sebagai afiliasi utama linguo-kultural mereka. Menurut dosen Ilmu Sejarah Unair,  Eni Sugiarti, M.Hum., sikap superior ini  dapat dijumpai pada orang Maluku yang bermukim dalam tangsi-tangsi militer di Surabaya. Orang Maluku yang bertempat tinggal di tangsi cenderung bersikap diskriminatif, sementara mereka yang berada di luar tangsi bersikap egaliter.

Kemerdekaan Indonesia menjadi masalah bagi orang Maluku karena banyak dari mereka enggan bergabung dengan negara baru ini. Bahkan mereka berupaya membentuk negara sendiri, Republik Maluku Selatan (RMS), yang gagal diwujudkan. Pada awal tahun 1950an pemerintah Belanda berinisiatif untuk mengirim mereka beserta keluarganya ke Belanda untuk beberapa bulan tinggal di Belanda dan dinjanjikan kembali ke bumi Nusantara menempati Nieuw Guinea Belanda (Papua). Ron Habiboe, M.A., peneliti pada Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Leiden menegaskan bahwa tidak dapat diwujudkannya janji pemerintah Belanda untuk menempatkan mereka di Papua menimbulkan frustasi pada mereka. Kekecawaan ini semakin meruncing ketika seorang elit pemerintah Belanda menyatakan bahwa RMS adalah ilusi. Kekecewaan ini diekspresikan secara ekstrim dengan melakukan pembajakan Kereta Api di Belanda pada tahun 1977. Namun akhirnya, orang Maluku dapat hidup di Belanda hingga lima generasi yang tersebar di berbagai wilayah di Belanda.

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?