Seminar Refleksi Budaya 2020 Dalam Rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga ke 22: Membangun Negeri Berbasis Tradisi

image

Sebagai bagian dari upaya terus menerus membangun tradisi akademik yang kuat di kampus, maka salah satu rangkaian penting dalam merayakan Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya ke 22 adalah diskusi webinar pada tanggal 14 Desember 2020 yang berlangsung selama tiga sesi bertajuk “Membangun Negeri Berbasis Tradisi.” Pemilihan tema ini bukanlah sekedar harmonisasi kata kata ataupun jargon tanpa makna. Tema ini berangkat dari refleksi bersama warga Fakultas Ilmu Budaya dalam memaknai perjalanan sepanjang tahun 2020 dimana pandemi Covid-19 menjadi warna dominannya. Pandemi Covid 19 telah membuat dunia yg banyak dipercaya sebagai tak lagi bersekat tiba-tiba menjadi saling terbatasi satu sama lain dalam skala yg tidak dibayangkan oleh manusia abad ke-21 dan menghasilkan perubahan yang sangat besar dampaknya bagi kehidupan manusia secara global. Para pembicara, moderator, dan penampil pada acara ini tidak saja berasal dari akademisi FIB universitas Airlangga tetapi juga berkolaborasi dengan kolega dari Universitas Indonesia, FISIP Universitas Airlangga, dan kawan kawan dari Bengkel Muda Surabaya.

Acara dibuka oleh Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Budaya, Lina Puryanti, dan langsung dilanjutkan dengan sesi pertama diskusi yang melihat refleksi budaya dari Perspektif Kesejarahan. Hadir tiga pembicara yaitu Yudi Bachri Octora dari program studi Sejarah Universitas Indonesia, Johny A. Khusyairi dan Purnawan Basundoro dari program studi Sejarah Universitas Airlangga, dengan moderator Samidi. Ketiga pembicara menyampaikan tema tentang fenomena pandemi Covid-19 dengan sudut pandang yang berbeda. Octora menyampaikan gagasannya tentang Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria (GeSLA) sebagai tindakan antisipatif selama pandemi Covid-19 yang dimotori oleh Konsorsium Pembaruan Agraria. Gerakan ini berupaya mendorong penguatan solidaritas sosial antara masyarakat pedesaaan (petani, buruh, nelayan) dan masyarakat perkotaan yang rentan. Semangat yang dibangun gerakan solidaritas ini adalah ‘rakyat bantu rakyat’ dengan mensosialisasikan lagi ‘lumbung’ sebagai strategi ketahanan pangan di kala pandemi Covid-19. Lumbung tidak hanya dimaknai sebagai tempat menyimpan bahan pangan, tetapi lebih dari itu dirasakan oleh masyarakat sebagai mekanisme gotong royong saling memenuhi kebutuhan.

Pandemi Covid-19 memang berpengaruh pada kebiasaan sosial yang sebelumnya telah dianggap normal. Realitas ini telah banyak mengubah kebiasaan masyarakat tidak hanya pada strategi ketahanan pangan (seperti dikemukakan oleh Octora), tetapi juga rekayasa sosial yang harus menyesuaikan situasi. Johny A. Khusyairi mengemukakan pandangannya tentang kontrol mobilitas dan redefinisi sosial pasca Pandemi Covid-19. Beranekaragam kebiasaan baru telah menjadi bagian hidup sebagian masyarakat yang sekarang dikemas serba virtual, seperti online shop, pameran, kompetisi olah raga, wisata, orkestra, pertemuan/rapat, sehingga lahir masyarakat menuju mobilitas virtual. Hal ini sesuai dengan pandangan Purnawan Basundoro tentang kontrol ruang publik perkotaan dengan tujuan untuk mengurangi kerumunan. Pandemi Covid-19 bukan peristiwa pertama yang mengguncang dunia sebab satu abad yang lalu (tahun 1919-1921), masyarakat juga mengalami peristiwa pandemi influenza (Flu Spanyol). Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Influenza Ordonantie (20 Oktober 1920) yang memaksa masyarakat untuk mematuhi regulasi, ini merupakan strategi pemerintah kolonial mengendalikan dan menghentikan wabah. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah saat ini yang menetapkan berbagai regulasi mulai dari pemerintah pusat dan daerah. Tujuannya juga sama mengendalikan dan memutus rantai penyebaran virus. Kontrol ruang perkotaan pada masa pandemi harus dilakukan karena sifat kota yang terbuka, kepadatan penduduk, dan tingginya mobilitas sebagai penentu tingginya penularan. Bagian pertama sesi diskusi ditutup dengan tampilan apik pembacaan puisi dan kidung Sunda oleh mahasiswa Sastra Indonesia, Adnan.

 

Sesi kedua webinar yang membedah dari aspek kesenian dan kebudayaan menghadirkan tiga pemateri; Puji Karyanto dari Sastra Indonesia, Edi Dwi dari Sastra Inggris dan Heroe Budiarto dari Bengkel Muda Surabaya dengan dipandu oleh Kukuh Yudha. Puji Karyanto sebagai pemateri pertama memaparkan problem pemertahanan kesenian tradisi khususnya di Surabaya dan Jawa Timur. Dosen yang juga pengampu mata kuliah Dramaturgi tersebut berpandangan ada tarik menarik antara problem birokrasi, perkembangan zaman, dan juga ekonomi. Pembicara kedua, Edi Dwi Riyanto, mengangkat tema ‘hantu’ dalam kebudayaan Indonesia. Dipaparkan dengan apik, hantu-hantu itu, menurut Edi, bisa hadir sebagai entitas yang menyeramkan namun tak selalu mengarah pada ketakutan. Beberapa fenomena menunjukkan hantu-hantu ternyata bisa menjadi komoditas yang muncul lewat iklan dengan tujuan memasarkan produk tertentu. Sebagai suatu bagian integral dalam budaya, ‘hantu-hantu’ tersebut bisa memiliki fungsi dan makna kebudayaan yang signifikan. Pembicara ketiga yakni Heroe Budiarto menajamkan diskusi dengan memaparkan problem-problem pemajuan kebudayaan di Surabaya khususnya setelah terbitnya UU Pemajuan Kebudayaan pada tahun 2017. Menurut Heroe, Surabaya memiliki problem serius bagaimana objek-objek pemajuan kebudayaan itu diperlakukan dan diaktualisasikan. Heroe secara eksplisit mengajak sivitas akademika agar ikut serta dalam upaya pemajuan kebudayaan di Surabaya yang kemudian ditanggapi secara langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof Purnawan Basundoro yang menyatakan komitmennya bahwa FIB akan menjadi inkubator budaya yang berpartisipasi langsung dalam upaya pemajuan kebudayaan. Sesi kedua ini ditutup dengan kidungan/parikan dari Jalal (Sastra Indonesia) yang dengan luwes dan cengkok khas ludruk menyentil bagaimana suka duka berkuliah dan berkesenian di masa pandemi. Tidak sedikit yang tersenyum dan terpingkal-pingkal mendengar materi sentilan yang disampaikan.

Sesi ketiga acara dari perspektif sosial politik mengusung tiga pembicara yaitu Sahrur Martha (Studi Kejepangan). Airlangga Pribadi (Fisip Unair), dan Heti Palestina Yunani (Bengkel Muda Surabaya) dan dimoderatori oleh Listiyono Santoso (Sastra Indonesia). Sahrur menandaskan bagaimana pandemi covid 19 telah melahirkan berbagai perubahan mendasar dalam kehidupan umat manusia; perubahan waktu, ruang, hingga pergeseran tata nilai (moral) dalam masyarakat. Dalam konteks pergeseran waktu; ada suatu gambaran bahwa inilah gerak jaman dari krisis menuju organis; dari ketidakberaturan menuju keberaturan baru; dari chaos menuju kosmos. Pergeseran ruang dalam dilihat beralihnya aktivitas manusia dari analog ke digital; dari offline menuju online. Pada situasi demikian dampak lainnya adalah terjadinya perubahan dan pergseran tata nilai yang berlangsung dalam masyarakat. Tatkala nilai lama mulai dipersoalkan, beralih pada tata nilai baru. Globalisasi meniscayakan terjadinya ruang-ruang perubahan tersebut. Gerak jaman ini harus selalu disikapi secara positif dan optimisme bahwa manusia pasti memiliki kemampuan mencari jalan keluar dari setiap hambatan dan tantangan jaman. Kemampuan manusia menemukan jalan keluar ini merupakan bentuk optimisme atas kerja serius intelektual.

Airlangga Pribadi menandaskan bagaimana Pandemi covid 19 memang memberikan dampak luar biasa dalam dunia kehidupan umat manusia. Kemampuan memberikan jalan keluar dari situasi pandemic ini merupakan orientasi yang terus menerus dibangun. Ibarat gim (permainan), saat ini –kata Sizek, dalam kutipan Airlangga, adalah era dimana kita sedang bertempur melawan pandemic. Jika kita menang, maka kehidupan berjalan, tapi jika kalah maka game over lah kehidupan umat manusia. Dalam konteks ini, menghadapi situasi pandemic; jalan keluar yang harus dibangun adalah membangun ruang-ruang solidaritas yang diarahkan bukan hanya sekedar menciptakan situasi harmonis dan keteraturan, tetapi juga berorientasi  paa kemampuan memroyeksikan suatu perubahan penting dalam rangka membangun peradaban yang berkeadilan dan menyejahterakan masyarakt. Ruang solidaritas ini tidak lah hanya dletakkan dalam hubungannya aspek kesehatan akibat pandemic corona, tapi juga bagaimana membangun ketahanan dan pertumbuhan ekonomi, kohesi social yang dinamis, hingga ruang politik yang lebih kondusif dan berperadaban.

Selain itu, di pihak lain, Heti menggaris bawahi bagaimana ruang public kita juga diisi oleh media massa yang tetap menjalankan fungsi idealismenya membangun narasi yang mencerdaskan, bukan yang justru menciptakan narasi yang memroduksi kebencian. Semangat membangun harus muncul ketimbang membunuh, menghadirkan kenyataan kebih utama ketimbang menciptakan pencitraan, kemampuan mendorong daripada menyorong; memberitakan hal yang benar bukan hoaks, dan sebagainya. Daalam konteks ini, maka pers harus menjadi pilar penting untuk membangun narasi yang membangun optimisme di tengah masyarakat yang sedang ‘rusak’ oleh dominasi wacana yang kontraproduktif dan a-demokrasi. Bagian ketiga ini kemudian ditutup dengan musikalisasi yang sangat apik dari Panji yang bergabung dalam komunitas Bengkel Muda Surabaya.

Secara umum, acara diskusi berlangsung dengan sangat apik, antuisme peserta bertahan sangat banyak bahkan sampai dengan akhir acara. Pertanyaan pertanyaan dari peserta bergulir dengan deras dan disambut oleh para pembicara dengan sama antusiasnya. Ini menunjukkan bahwa situasi pandemic mungkin justru harus menjadi sebuah kesempatan baru dimana ruang boleh dan harus berjarak tapi justru kedekatan yang tercipta dari situasi intelektulitas malah akan makin mendekat dan menciptakan bentuk bentuk solidaritas baru, yang memampukan kita bersama untuk bertahan dan membangun strategi membangun masa depan yang (sempat) porak poranda oleh pandemi. Dirgahayu FIB, Selamat Tahun Baru 2021 (Samidi, Kukuh, Listiyono, Lina)

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?