FIB Unair Sukses Gelar Konferensi Internasional Tentang Kajian Perkotaan

image

Foto: Di tengah berbaju putih, Diah Ariani Arimbi S.S., M,A., Ph.D., Dekan FIB Unair berfoto bersama para pembicara kunci The 5th International Conference on Urban Studies.

          Komitmen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) untuk berkontribusi mewujudkan cita-cita Universitas Airlangga (Unair) menjadi kampus kelas dunia terlihat dari konsistensi kegiatan internasional yang diselenggarakan. Fakultas yang memiliki slogan moving to a global recognition tersebut baru saja sukses menggelar konferensi internasional bertajuk The 5th International Conference on Urban Studies (ICUS) pada 25 dan 26 Oktober 2019.

            Acara yang diselenggarakan di gedung Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Kampus B tersebut dihadiri sebanyak 107 ilmuwan dari beragam latar belakang keilmuan sosial, politik, ekonomi, keamanan dan advokasi dari berbagai negara di dunia.

            Dekan FIB Unair, Diah Ariani Arimbi S.S., M,A., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan sambutanya kepada peserta sekaligus membeberkan maksud dan tujuan diselenggarakannya konferensi internasional tentang Kajian Perkotaan kali ini.

“Kami bertujuan agar konferensi kami menjadi perayaan berbagi pengetahuan dan gagasan antara  peneliti, pendidik, mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perwakilan pemerintah Indonesia. Kami berharap diskusi di konferensi ini akan memperluas dialog untuk lebih memahami masalah terkait perbatasan dan mobilitas di tingkat lokal dan global,” ungkap perempuan pertama yang menjadi Dekan di FIB itu mantap.

Sebagaimana tema yang diangkat dalam ICUS edisi kelima ini yakni “Border, Transportation and Space”, isu-isu seputar perbatasan dalam penelitian global, perbatasan dalam lokalitas, perbatasan dalam gerakan identitas, perbatasan dalam tubuh, perbatasan dalam politik seksual dan perjuangan identitas gender, perbatasan dalam pembuatan kebijakan, perbatasan dalam bidang seni, perbatasan dalam teknologi media dan komunikasi, perbatasan dalam ruang dan tempat, perbatasan dalam keamanan dan isu-isu maritim, perbatasan dalam bahasa, budaya dan multi bahasa, perbatasan sejarah atau kisahnya, perbatasan dalam sastra dan budaya, perbatasan dalam pendidikan, transportasi dan identitas.

Adapun beberapa pembicara kunci dari total 13 akademisi yang hadir dalam konferensi tersebut diantaranya; Freek Colombijn dari Vrije Universiteit Amsterdam, Yumi Kitamura dari Kyoto University, Tod Jones dari Curtin University, Itty Abraham dari National University of Singapore, Danang Parikesit dari Universitas Gadjah Mada, dan beberapa akademisi lain dari lintas disiplin ilmu pengetahuan yang tersebar di empat benua, yakni Amerika, Australia, Asia dan Eropa.