Jadi Tamu Kehormatan, Museum Sejarah dan Budaya FIB Unair Pamerkan Arsip Hingga Manuskrip di Kabupaten Nganjuk

image

Kepala Museum Sejarah dan Budaya FIB Unair, Edy Budi Santoso, S.S., M.A, bersama tiga mahasiswi di stan pameran museum di Kabupaten Nganjuk

          Promosi museum menjadi salah satu aspek penting guna menguatkan eksistensi museum di mata khalayak ramai. Apalagi ketika posisi museum masih dinilai sebagai suatu tempat yang memiliki peranan krusial oleh sebagian besar masyarakat.

Museum Sejarah dan Budaya yang dikelola oleh Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) terhitung sudah beberapa kali melakukan promosi dalam bentuk pameran koleksi secara berkala baik dalam lingkup universitas maupun luar universitas yang melibatkan peran serta mahasiswa didalamnya. Tercatat, beberapa kali Museum Sejarah  dan Budaya mengadakan pameran koleksi di lobby lantai 1 FIB Unair. Pernah juga ikut berpartisipasi memamerkan koleksi museum di festival Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo.

Teranyar, Museum yang diresmikan sejak tahun 2016 ini mendapatkan undangan kehormatan untuk menjadi bagian dari Event Pameran Koleksi Museum di Museum Anjuk Ladang, Kabupaten Nganjuk pada 16-18 Juli 2019. Pada kesempatan tersebut, Museum Sejarah dan Budaya FIB Unair memamerkan koleksi naskah kuno berupa koran, majalah, manuskrip dan kitab pedhalangan.

Andri Setyo Nugroho mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah FIB Unair yang turut serta dalam tim pemandu Museum Sejarah dan Budaya yang melawat ke Nganjuk menyampaikan kebanggaanya karena museum program studinya menjadi salah satu dari tujuh belas pegiat permuseuman yang diundang dalam pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk tersebut.

“Beruntung sekali kami diundang dalam pameran museum tersebut. Ajang itu bukan hanya sekedar pameran, tapi juga ajang sharing informasi bagi para kolektor, pecinta barang antik, komunitas, dan pengelola museum sehingga, darisana kami dapat banyak ilmu mengenai pengelolaan koleksi museum,” terangnya.

Andri menambahkan bahwa koleksi dari Museum Sejarah dan Budaya yang dipamerkan membuat standnya ramai dikunjungi oleh gelombang rombongan pelajar. Para pelajar disebutkannya sangat tertarik dengan arsip media massa cetak yang terbit di masa lampu. Sedangkan koleksi berupa manuskrip kitab fiqih berhasil mencuri perhatian dari orang tua dan guru untuk berkunjung ke stand Museum Sejarah dan Budaya.

“Koleksi majalah Djawa misalnya, sangat menarik perhatian para pelajar. Sedangkan manuskrip fiqih menjadi primadona yang mencuri perhatian para guru, karena kitab ini ditulis tangan pada sebuah bidang tulis yang jumlahnya ratusan lembar,” ungkap mahasiswa yang menggeluti sejarah nirleka tersebut.