Datang ke Belanda, Dosen Ini Kenalkan Cerita Klenik Pesugihan

image

Datang ke Belanda, Dosen Ini Kenalkan Cerita Klenik Pesugihan

Jum’at, 19 Juli 2019 – 16:51 WIB
Datang ke Belanda, Dosen Ini Kenalkan Cerita Klenik Pesugihan
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Diah Ariani Arimbi ketika menjelaskan tentang pesugihan di International Convention of Asia Scholars (ICAS) ke-11 di Leiden, Belanda. Foto/Ist.

SURABAYA – Cerita klenik tentang pesugihan yang ada di Indonesia, menjadi topik menarik di International Convention of Asia Scholars (ICAS) ke-11 di Leiden, Belanda.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Diah Ariani Arimbi datang ke Belanda dalam forum ICAS. Dalam diskusi panel meja bundar, ia mempresentasikan materi dengan topik pesugihan kembang sore di Tulungagung.
Topik yang diangkat pada konferensi itu merupakan hasil penelitian bersama dua dosen Bahasa dan Sastra Inggris. Namun pada konferensi tersebut, dirinya menyampaikan presentasi mandiri.

“Keikutsertaan saya yang ketiga ini untuk lebih membahas budaya lokal yaitu pesugihan di Tulungagung,” kata Diah, Jumat (19/7/2019).
Ia melanjutkan, selain diskusi meja bundar juga ada pidato utama, pameran kerajinan, festival film dokumenter, dan pameran buku studi Asia. Melalui semua kegiatan ini, ICAS berhasil menyatukan para cendekiawan Asia dan budayawan dari seluruh dunia untuk berinteraksi secara langsung.

Bahkan, katanya, hasil dari presentasinya itu akan termuat dalam jurnal ilmiah. Termuatnya dalam jurnal yang terakreditasi juga akan menaikkan peringkat Unair di World Class University (WCU).

Tidak hanya menaikkan peringkat Unair dalam WCU, jurnal yang terpublikasi mampu menjadi khazanah ilmu pengetahuan di dalam kampus.

Karya Diah yang berjudul “Reading Contemporary Indonesian Muslim Wowen Writers” merupakan hasil presentasi di ICAS pada 2009 yang berhasil dibukukan oleh Amsterdam University Press, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Airlangga University Press 2018.

“Pada tahun 2009, karya saya tentang penulis perempuan muslim Indonesia adalah hasil dari ICAS yang dibukukan,” sambungnya.
ICAS ke-11 ini, katanya, memiliki keuntungan terhadap para akademisi. Salah satu keuntungan itu adalah  memiliki banyak peluang jejaring. Sebab,  jejaring yang dapat dimaksimalkan adalah kemungkinan untuk berbagi penelitian, dan bertemu dengan penerbit.

Mengutip dari laman ICAS 11, jumlah peserta yang hadir sebanyak 1.750  orang. Jumlah tersebut meliputi ahli di setiap disiplin ilmu. Sosial-Humaniora menjadi fokus tema ICAS ke-11.

Topik seperti memikirkan kembali Pendidikan, transformasi agama, postkolonial, demokrasi, neoliberalisme, dan sejarah intelektual menjadi bahasan menarik dalam konferensi.

(eyt)
Sumber