Muhammad Daffa:Merayakan Hidup dengan Secangkir Puisi

image

Catatan Pengantar:

‘RAYA” memuat sekaligus pengertian besar, luas, dan agung. “Merayakan” berarti memperingati, dengan cara mengagungkan, membesarkan, menjunjung, dan memuliakan, dalam suasana bersuka. Ini pengertian umum. Leksikal. Merayakan bukan pekerjaan bersendiri. Itu pekerjaan orang ramai.

Dengan pengertian itu apa yang hendak dirayakan oleh seorang penyair yang bersendiri dari ingatan, ibu, bapak, dan dari mimpinya? Apakah kita sebagai pembaca harus atau bisa ikut merayakan hal-hal personal itu?

Kuncinya ada di bait awal sajak “Merayakan Mimpi“: Di tanganmu / Secangkir puisi adalah perayaan //. Muhammad Daffa (lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999) tidak membuat perayaan yang denotatif itu.

Perayaannya adalah perayaan kecil, cukup dengan secangkir puisi di tangan. Begitulah empat puisinya kita sajikan di sini. Mau ikut merayakan?

Begitulah memang seharusnya penyair bekerja dengan bahasa. Ia memberi makna lain pada bahasa yang sudah ada, tapi kadang diabaikan makna sebenarnya. Menyair adalah terjun ke dalam lautan kata, memberdayakan kata, memahami benar apa makna kata itu, dan kemudin juga memberi makna baru pada kata itu.

Daffa, Mahasiswa Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya, yang sudah menerbitkan dua buku puisi tentu tahu benar apa yang sudah ia kerjakan dengan kata dalam puisi-puisinya. ha/LS

Merayakan Ingatan

Jalan panjang rima—
Menggenang kenang yang lama
Di dalam kepalamu, kota-kota
Terbunuh keinginannya sendiri

Tubuhmu menjadi puing
Sajak-sajak telanjur genting
Lukamu dibaca
Air matamu merayakan ingatan
Kuhangatkan senantiasa dalam nyala puisi

Surabaya, Mei 2019

Merayakan Ibu

Di mana batas cemas? Puisi menorehkan wajah yang lupa masa muda
Usia mengukir jalan panjang cahaya di atas rambutmu
Sementara aku remaja tanggung yang lupa cara menyambung ingatan
Terperam rayu mimpi, terbujur di atas deret kalimat yang gagal aku selesaikan

Kau di dalam cemas—
Aku di luar cemas, menjadi narasi yang deras
Mengalirkan wabah puisi
Kepada buku-buku yang tak terjamah kata

Aku merayakanmu—kau merayakanku
Di dalam suara malam, angin menghentak
Membawa aroma tubuhku yang senantiasa tekun
Mengingatmu dalam doa-doa yang luruh bersimpuh

Surabaya, Mei 2019

Merayakan Bapak

Apakah pulang? tanyamu. Tak ada langit yang menjawab. Kata-kata dingin dan beku.
Dalam sajak ini, pergi adalah pulang—mengeja langkah sepasang
Anakmu menjelma puisi di kota orang, memahat cahaya di dinding-dinding abad

Aku nyala dalam doamu, anak rima yang suaka
Dalam riang tamasya, bermain petak umpet
Di relung tersembunyi puisi

Kerap lupa
Menafsirkan pulang

Surabaya, Mei 2019

Merayakan Mimpi

Di tanganmu
Secangkir puisi adalah perayaan

Bahasamu menoreh mimpi
Yang kutampung di telapak tangan

Puisi menuliskan aku
Dalam kemuliaan narasi
: mimpi mimpi mimpi
batas yang tak pernah pasti

Surabaya, Mei 2019

SUMBER https://lahirsajak.com/2019/05/18/muhammad-daffa-merayakan-hidup-dengan-secangkir-puisi/