Melalui Telekonferensi, Hilmar Farid ‘Hadir’ di Acara Bedah Buku “Pendidikan, Kekuasaan, dan Kolonialisme” di FIB Unair

image

         

          Meskipun urung datang di acara bedah buku “Pendidikan, Kekuasaan, dan Kolonialisme”, Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Hilmar Farid tetap ‘hadir’ melalui teleconference.

Pada forum diskusi bedah buku “ Pendidikan, Kekuasaan, dan Kolonialisme” karya Dr. Agus Suwignyo, M.A., yang diselenggarakan di Aula Siti Parwati Lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Hilmar Farid sebenarnya telah dijadwalkan hadir sebagai pembicara di forum diskusi.

            Meskipun tidak bisa hadir, Dr. Hilmar Farid tetap bisa menyampaikan tanggapannya atas buku yang tengah didiskusikan tersebut. Ia menyampaikan pandangannya tentang buku yang ditulis oleh Dr. Agus Suwignyo melalui media teleconference dengan durasi sekitar 13 menit.

            “Dekolonisasi di bidang pendidikan pada sistem pendidikan kita hari ini masih belum tuntas. Agus, dalam buku ini mencoba memberikan penjelasan mengapa hal tersebut tak kunjung tuntas,” jelasnya.

            Menurut Dr. Hilmar Farid jangkauan pendidikan di Indonesia mulai semakin meluas pada awal abad ke-20 saat kebijakan politik etis diterapkan oleh pemerintah kolonial hinda belanda. Sejarah pendidikan mulai bergerak dari kebijakan tersebut.

            “Pendidikan menjadi boomerang bagi kolonial, alih-alih mencerdaskan masyarakat jajahan, yang terjadi justru timbulnya kesadaran massif dari masyarakat yang berpendidikan  untuk melakukan perlawanan terhadap pihak kolonial, sekaligus mengakhiri kekuasaan kolonial pada saat itu,” tambahnya.

            Tanggapan diskusi yang disampaikan oleh Dr. Hilmar Farid melalui media teleconference menunjukkan bahwa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) dalam mendukung aktivitas akademik sudah memumpuni dengan dilengkapi perangkat teknologi informasi.