Dari Bedah Buku “Pendidikan, Kekuasaan dan Kolonialisme”: Meneroka Sengkarut Pendidikan di Indonesia

image

             Berbagai forum diskusi ilmiah dalam macam rupa seperti bedah buku, seminar, maupun kajian tematik terbilang sangat sering diselenggarakan oleh departemen program studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair). Fakta hidup tersebut mengisyaratkan bahwa iklim akademik di kampus ini sangatlah baik untuk belajar bagi mahasiswa maupun perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Terbaru, Departemen Ilmu Sejarah bekerjasama dengan Selarung Institute menyelenggarakan bedah buku dengan judul “Pendidikan, Kekuasaan dan Kolonialisme” yang ditulis oleh Dr. Agus Suwignyo, M.A, staff pengajar pada Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM). Forum bedah buku tersebut dilaksanakan di Aula Siti Parwati FIB Unair Rabu 8 Mei, yang dihadiri kurang lebih 100 mahasiswa.

Didapuk sebagai pembedah yakni Dr. Hilmar Farid namun berhalangan hadir dan menyampaikan tanggapannya melalui telekonferensi, Dr. Sarkawi B. Husein, S.S., M.Hum, Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Unair, serta Dr. Agus Suwignyo, M.A sebagai penulis sekaligus pembicara. Agus mengungkapkan bahwa buku yang ia tulis memiliki posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan dewasa ini, sebagai bahan refleksi.

“Isi buku ini sangat penting untuk mengetahui apa saja model dan praktik pendidikan peninggalan kolonial, bagaimana nasib kesejahteraan guru, dan polemik kurikulum pendidikan Indonesia yang tiap rezim pemerintahan selalu berganti kebijakan,” terangnya.

Sementara itu Dr. Sarkawi yang juga menekuni kajian sejarah pendidikan menyebutkan bahwa upaya dekolonisasi di bidang pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata berhasil. Terbukti dengan sistem sekolah yang masih dipakai sampai hari ini. Juga adanya sekolah-sekolah ekslusif yang merupakan bentuk adopsi dari gaya segregatif pendidikan di masa kolonial hindia belanda.

“Benih-benih konflik sangat mudah tersemai dari sekolah-sekolah yang bersifat ekslusif dan kini tengah marak berkembang di dunia Pendidikan kita. Sebab, disana secara tidak langsung mengarahkan pada praktik yang segregatif dalam berkehidupan, sesuai dengan kelompok dan golongannya, persis pada masa kolonial, itu sangat diskriminatif karena membatasi akses untuk yang lain,” jelasnya

Dr. Sarkawi merekomendasikan kepada seluruh peserta yang hadir untuk memiliki dan membaca kumpulan tulisan Dr. Agus dalam buku “Pendidikan, Kekuasaan dan Kolonialisme”.

“Buku yang sangat menarik untuk dibaca, isinya akan membuka cakrawala pengetahuan kita, membantu pemahaman kita tentang dinamika yang ada dalam sistem pendidikan di Indonesia saat ini,” pungkasnya.