Makna Hari Kartini di Mata Inisiator Selasa Berkain di FIB, Dr. Hj. Adi Setijowati, M. Hum

image

Dr. Hj. Adi Setijowati, M. Hum

Atmosfer semangat Hari Kartini masih terasa sangat kuat di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair). Apalagi, dengan adanya informasi baru seputar perayaan Hari Kartini, keperempuanan, dan kesetaraan gender. Jika selama ini perayaan Hari Kartini selalu riuh dengan parade pakaian kebaya dan sanggul, maka sesungguhnya ada hal lain yang bisa ditampilkan di ruang publik saat perayaan berlangsung, yakni dengan memakai kain untuk pakaian bawahan perempuan, yang terstigma membatasi gerak perempuan ternyata tidak benar adanya anggapan tersebut.

Dr. Hj. Adi Setijowati, M. Hum adalah salah satu Dosen pada Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia FIB Unair yang secara konsisten sejak tahun 2017 mengenakan kain di setiap hari selasa. Saat ditemui di secretariat Unit Kajian dan Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT), Bu Adi menjelaskan awal mula bagaimana kebiasaan memakai kain kembali diwacanakan.

“Tercetusnya Selasa Berkain itu sebenarnya timbul dari ketidaksengajaan. Jadi waktu itu kita, dosen-dosen sepuh FIB, kumpul dan membahas bagaimana kalau kita coba berkain  lagi, dan saat itu juga disepakati. Ada komunitasnya, namanya, Komunitas Bangga Berkain,” jelasnya.

Dari perbincangan yang tidak disengaja tersebut. Bangga berkain dirasa perlu dihidupkan dan dikenalkan lagi, karena sekarang muncul kecenderungan lebih bangga bercelana daripada berkain.

“Kami putuskan, tiap selasa kami berkain, karena miris kenapa kain ini bisa terpinggirkan, kita hargai kain ini dengan memakainya setiap Selasa,”imbuh penjelasnya.

            Guna mendukung misi yang baik ini serta meningkatkan animo untuk berkain, Adi dan kawan-kawan juga mengundang salah seorang anggota Komunitas Bangga Berkain dari luar FIB Unair untuk mengajari memakai kain.

“Kami undang itu dari Komunitas Bangga Berkain, untuk mengajari berkain, memakai kain, dan ternyata sangat mudah. Kain yang dipilih adalah kain yang lentur dan tipis, agar saat dipakai aktivitas dikeseharian tidak mengganggu. Selain itu, sekarang cukup berkain saja, tidak perlu pakai konde dan sasak, seperti di istana keraton, tidak usah, dimudahkan kok sebenarnya,” paparnya.

            Menurutnya, memakai kain sama sekali tidak akan mengganggu ataupun membatasi gerak perempuan. Justru, dapat menyelamatkan perempuan dari objek konsumsi pandangan laki-laki. Selain itu, berkain di era sekarang ini sangatlah fleksibel karena tidak ada pakem khusus seperti zaman dahulu. Karena itu, sesungguhnya tidak alasan untuk perempuan tidak berkain.

            Ketua UK2JT ini menyampaikan pesanya, mengajak seluruh civitas akademika FIB Unair khususnya dan kepada masyarakat pada umumnya, yang perempuan agar kembali lagi berkain.

“Cintai produk Indonesia. Berkain adalah salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan luhur. Membaca perempuan dan laki laki di Hari Kartini, sesungguhnya perempuan bisa berperan lebih banyak daripada laki-laki, meski berkain sekalipun,” pungkasnya.