Kangeikai Native: Sambutan untuk Dua Native Speaker Baru Di Departemen Studi Kejepangan

image

 

Bertujuan memperkuat keterampilan berbahasa dan memahami budaya Jepang, dua native speaker asal negeri Sakura didatangkan Departeman Studi Kejepangan

Sudah sebelas tahun ini, Departemen Studi Kejepangan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga menjalin kerjasama dengan Ashinaga Foundation. Salah satu bentuknya, yayasan dari Jepang itu mengirimkan dua orang native speaker untuk menjadi asisten dosen pengajar di Departemen Studi Kejepangan, Menariknya, usia mereka relatif sama dengan para mahasiswa. Umumnya, mereka adalah mahasiswa semester enam atau tujuh di kampus masing-masing. Para native speaker dari Ashinaga Foundation biasanya datang ke Indonesia pada bulan April di setiap tahun. kemudian, berakhir pada Februari tahun berikutnya, sekitar 10 bulanan. Selain mengirimkan mahasiswa Jepang untuk berbagi ilmu di Indonesia, yayasan ini juga memberi peluang summer course untuk para mahasiswa.

Tahun ini, dua asisten dosen dari Jepang itu adalah Watanabe Ruri dan Kondo Hiromu. Dalam penyambutan kehadiran native speaker  di Departemen Studi Kejepangan, baik Ruri dan Hiromu menceritakan hobi masing-masing. Ruri memiliki hobi mendengarkan musik, nonton film, dan jalan-jalan. Sedangkan, Hiromu memunyai hobi lari marathon.

Ketua Himpunan Mahasiswa Departemen Studi Kejepangan, Shalia Samantha Inaray menyampaikan bahwa acara Kangeikai Native diselenggarakan untuk memerkenalkan kedua native speaker kepada seluruh warga Niseikai

“Acara ini dibuat khusus untuk menyambut hangat kedua native kita yang baru saja datang dari jepang. Selain itu, juga menjadi sarana perkenalan native kepada civitas akademik Departemen Studi Kejepangan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, tujuan didatangkanya native speaker ke Departemen Studi Kejepangan diharapkan akan membantu proses perkuliahan. Terutama para mahasiswa yang bisa langsung mempraktikkan ilmu dan kemampuan bahasa Jepang pada orang asli dari negeri Sakura.

“Tujuannya agar memaksimalkan cara belajar mahasiswa studi kejepangan agar dapat lancar dalam berkomunikasi bahasa jepang, tidak hanya belajar dari buku saja,” paparnya.

Selain itu, Samantha juga mengutarakan harapannya agar mahasiswa di jurusan Studi Kejepangan dapat memanfaatkan momentum ini dengan baik. Mengasah kemampuan bahasa Jepang dengan maksimal kepada orang asli dari jepang.

“Kehadiran native diharapkan akan membangkitkan rasa percaya diri untuk berkomunikasi dengan bahasa jepang. Jadi, adik-adik tidak perlu malu dan takut lagi untuk belajar. Pesan untuk semua, jangan segan untuk menyapa native kita saat bertemu dimanapun itu,” pungkasnya.