Diah Ariani Arimbi: Hari Kartini Adalah Momentum Untuk Wujudkan Kesetaraan Gender

image

Diah Ariani Arimbi S.S., M.A., Ph.D.

Struktur Kepemimpinan di FIB adalah Implementasi dari Kesetaraan Gender

          Masih dalam nuansa semangat Hari Kartini, bulan April ini merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali bagaimana kesetaraan gender yang pernah diperjuangkan R. A Kartini semasa penjajahan Belanda, dapat dilanjutkan oleh generasi mudabangsa Indonesia dewasa ini.

            Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) memunyai sosok yang memiliki spesialisasi kajian gender. Adalah Diah Ariani Arimbi S.S., M.A., Ph.D. perempuan yang menjadi orang nomor satu, yakni seorang Dekan, di FIB Unair.

            Saat ditemui di ruang kerjanya, Diah memaparkan seputar fakta bahwa di FIB Unair, kesetaraan gender sudah terbilang baik. Hal ini tak terbantahkan jika dirujuk pada struktur kepemimpinan di jajaran fakultas yang banyak diisi oleh perempuan.

“Kalau sebenarnya di FIB, dibanding fakultas lain kita sudah lumayan untuk kesetaraan gender. Dalam aspek kepemimpinan, misalnya, kita punya dekan dan dua wakil dekan, dua kepala program studi S2, dikalangan mahasiswa juga lebih banyak yang cewek. Kalau di anggota dewan  30 persen jatah perempuan, kita sudah melampauilah untuk itu” jelasnya.

Namun, masalahnya ilmu humaniora masih tersandera oleh stigma bahwa ilmu tersebut adalah ‘ilmunya perempuan’, karena berkaitan dengan bahasa dan pendidikan. Sedangkan ilmu yang ‘maskulin’ adalah ilmu teknik. Nah, polarisasi seperti ini menjadi masalah yang sangat serius untuk mewujudkan kesetaraan gender. Diharapkan, kelak anggapan tersebut bisa berubah, yakni di teknik ada banyak perempuan, di humaniora terdapat banyak laki-laki.

“Sebenarnya pada Perang Dunia ke-2, di Amerika Serikat, karena laki-laki semua berangkat perang, jadi yang buat bom, tank, senjata itu ya perempuan, siapa yang buat kalau tidak perempuan, karena laki-laki semua perang. Nah ketika perang selesai, laki-laki tidak ada kerjaan lalu perempuan kembali didapurkan. Dari situ, seharusnya muncul kesadaran bahwa, perempuan itu bisa saja mengerjakan segala sesuatu diluar domestiknya. Polarisasi keilmuan dan pekerjaan itu jangan diteruskan.”

Diah menceritakan bagaimana awal ketertarikannya pada kajian gender. Bermula dari pengelihatan pada kondisi perempuan di jawa yang hanya dijadikan konco wingking; kasur, sumur, dapur, tersandera oleh konsep mitos-mitos yang diciptakan oleh masyarakat jawa yang membuat perempuan tidak banyak mendapatkan akses dibandingkan dengan laki-laki, misalnya dari aspek pendidikan.

“Padahal wisudawan prestasi saat wisuda di Airlangga Convention Centre (ACC) itu kebanyakan perempuan, tapi kenapa ketika dimasyarakat leader masih banyak laki-laki, seperti di rektorat misalnya. Nah, kalau dalam kajian gender itu ada namanya glasiling (faktor tak tampak), ekspektasi kalau perempuan sudah kuliah harus kembali ke domestiknya menjadi permasalahan. Kalau itu pilihan gak masalah, tapi kalau karena sandera konsepsi konco wingking itu yang gak boleh, dan wajib diperjuangkan untuk diubah,” jelasnya

Dalam momentum ini kesetaraan gender perlu dipahami bahwa tidak hanya untuk perempuan saja, tapi juga laki-laki, keduanya sama-sama memerjuangkan. Pada prinsipnya keduanya memiliki akses yang sama dalam berbagai aspek berkehidupan.

“Di Finlandia itu, kalau istri melahirkan gak cuma istri yang cuti tapi juga suami, karena tanggung jawab rawat anak itu milik bersama. Pendidikan anak itu tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Karena pendidika keluarga itu yang pertama dan utama, saya kira kita bisa contoh itu Finlandia dan Norwegia dalam hal kesetaraan gender,” paparnya.

Selain itu, Diah juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa/I Fakultas Ilmu Budaya khususnya, dan kepada perempuan juga laki-laki pada umumnya kaitanya dengan kesetaraan gender dan momentum hari ini. Disebutkan, bahwa meneladani perjuangan Kartini untuk memeroleh akses Pendidikan adalah sebuah keharusan untuk kemajuan bangsa.

“Mari meneladani perjuangan Kartini dalam memerjuangkan memberikan akses pendidikan bagi perempuan, karena jaman itu perempuan tidak boleh sekolah. Padahal kita sebagai muslim memunyai istilah, perempuan itu tiang negara, jika perempuannya baik maka negara itu akan baik pula. Misal, jika anak ada tugas, jika ibu tidak bisa bantu, bagaimana jadinya generasi masa depan kita. Pendidikan itu memberikan akses yang setara, bukan hanya gender tapi juga kepada para difabel,” pesanya.

“Turut sertalah dalam memerjuangkan kesetaraan gender, untuk perempuan dan untuk laki laki. Pendidikan keluarga itu yang pertama dan utama,” imbuhnya.