Dr. Sukaryanto, Pakar Sejarah Militer di FIB, Bicara Semangat Patriotisme dan Nasionalisme Kopassus

image

 

            Perjalanan mundur menuju ke masa lalu adalah hal yang menyenangkan, sebab dari sana akan diperoleh banyak pelajaran untuk bekal hidup pada masa mendatang. Termasuk, menengok sejenak sejarah kelompok elite militer tanah air, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang tengah memeringati hari jadinya.

            Tepat pada 16 Maret 1952 yang lalu, dibentuk suatu kesatuan pasukan elite bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kopassus dibentuk dengan beban berbagai tugas seperti penumpasan kelompok separatis, pembebasan sandera, operasi intelejen dan menjadi pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

            Saat ditemui di ruang kerjanya, Dr. Sukaryanto M.Si, Dosen Mata Kuliah Sejarah Militer, Departemen Ilmu Sejarah membeberkan latar belakang historis pendirian Kopassus .

“Kopassus dibentuk sebagai respon dan keprihatinan atas kesulitan pasukan Republik Indonesia dalam menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang telah menewaskan Brigadir Jenderal Slamet Riyadi.  Sebelum gugur, beliau bersama komandan pasukan Divisi Siliwangi Mayor A.E. Kawilarang sempat berencana membentuk kesatuan militer utama,” ungkapnya.

Sukar, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa Kopassus pernah mengalami  beberapa kali pergantian nama lembaga dengan berbagai dinamika perpolitikan organisasi di tubuh militer.

“Ide itu ditindaklanjuti Mayor A.E. Kawilarang bersama Mayor Mohamad Idjon Djanbi membentuk Kesatuan Komando Tentara Teritorial (Kesko TT) di Jajaran Kodam Siliwangi pada 16 April 1952. Mayor Mohamad Idjon Djanbi adalah orang Belanda mantan anggota tentara khusus Belanda yakni Korps Speciale Troepen (KST) bagian dari Koninklijk Nederland Indie Leger (KNIL). Pada 9 Februari 1953 komando Kesko TT diambil alih di bawah KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat), dan setahun kemudian, pada 18 Maret 1953 di bawah komando Markas Besar ABRI dan namanya diganti menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Pada 25 Juli 1955 berganti nama menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Empat tahun kemudian berganti nama menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) pada 17 Februari 1971. Kemudian berubah lagi menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 25 Juni 1986,” paparnya.

            Selama kurun waktu 67 tahun, segudang kiprah Kopassus sebagai suatu kesatuan pasukan elite telah banyak tercurahkan untuk kepentingan bangsa dan negara. Beberapa operasi militer dari sekian banyak yang pernah dilakukan Kopassus demi tegaknya NKRI antara lain penumpasan gerakan separatis DI/TII di Jawa Barat, separatis Papua dan Aceh, PRRI/Permesta, Trikora, Dwikora, G 30 S/PKI, penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan, Operasi Seroja di Timor Timur, pembebasan sandera di Mapenduma (Papua), pembebasan sandera di Somalia, menjadi pasukan perdamaian PBB di berbagai belahan dunia, dan lain-lain.

            “Kopassus mendapatkan pengakuan dunia semenjak berhasil membebaskan 57 sandera di pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesia Airways (GIA) di bandara Don Muang, Bangkok, Thailand pada 1981 di bawah kepemimpinan, komandan Letnan Kolonel Sintong Panjaitan,” jelasnya.

            Dengan motto “lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas” menjadi salah satu variabel etos kerja yang wajib diteladani oleh generasi hari ini. Berikut, sederet nama tokoh nasional yang pernah menjadi komandan Kopassus antara lain Sarwo Edhie Wibowo, Benny Moerdani, Sintong Panjaitan, Yunus Yosfiah, Yogi S. Memed, Agum Gumelar, Hendropriyono, dan Prabowo Subianto.

            “Demikian sekelumit sejarah kesatuan elite militer di jajaran TNI, Kopassus adalah salah satu elemen yang membanggakan bangsa/negara Republik Indonesia. Generasi ini perlu tau. Bagaimana perjuangan tanpa lelah, nasionalisme, dan patriotime Kopassus merupakan hal yang wajib warisi generasi ini,” tukasnya.