Nobar dan Diskusi Film Sexy Killers di UK2JT: Merawat Nalar Kritis

image


Unit Kajian dan Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) tidak pernah lelah menggelar agenda-agenda diskusi yang mencerdaskan. Terbaru, unit yang dinaungi Fakultas Ilmu Budaya itu menggelar diskusi film Sexy Killers.

Tim Ekspedisi Indonesia Biru telah mencapai puncak perjalanannya menelusuri penjuru negeri untuk melakukan investigasi berbagai permasalahan agraria dan ekologi. Hal itu ditandai dengan dirilisnya film dokumenter Sexy Killers oleh WatchDoc. Film tersebut berisi tentang pengungkapan bekas galian tambang batubara, pembangunan industri PLTU, perlawanan masyarakat memerjuangkan haknya, hingga membongkar aktor politik yang bermain dibalik semua peristiwa tersebut.

            Mengingat betapa pentingnya film tersebut, Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) bersama Komunitas Timur Lawu, menggelar nonton bareng dan diskusi sebagai upaya merawat nalar kritis. Pemutaran film yang diadakan di Rumah Kebudayaan, Kampus B Universitas Airlangga (Unair) itu berlangsung pada Kamis (11/09/2019)

            Pembahas yang hadir diantaranya aktivis Walhi JATIM Wahyu Eka Setyawan dan Direktur Eksekutif Komunitas Timur Lawu Akhmad Ryan Pratama. Serta dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap isu-isu agrarian dan ekologi.

            Pasca pemutaran film, Wahyu mengungkapkan beberapa fakta bagaimana para oligarki politik Indonesia yang bermain dalam penggalian tambang batubara dan mega proyek PLTU diberbagai daerah yang merugikan masyarakat  sekitar.

            “Lihat, bagaimana oligarki politik negeri ini terus menggurita memerkaya diri dan melanggengkan kekuasaan. Tidak hanya bertarung, melainkan juga bernegosiasi untuk meraup keuntungan. Rakyat, yang memertahankan hak atas kepemilikan tanah dan memerjuangkan kelestarian lingkungan justru dituduh berlaku criminal,” tegasnya.

            Sementara itu, Ryan yang juga memiliki konsentrasi kajian sejarah lingkungan, mengapresiasi bahwa film tersebut sangat menarik untuk dibuat diskusi serta mampu mengahdirkan diskursus baru. Apa yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Indonesia Biru dengan perjalanan keliling Indonesia untuk investigasi, menurutnya bukan sekedar membuat film yang biasa saja, ada riset mendalam.

            “Sudah lama tidak ada film sebagus ini. Tentu ini akan menghadirkan diskursus baru. Mereka melakukan riset mendalam tentang fenomena eksploitasi sumber daya alam hingga perampasak hak-hak masyarakat. Saya apresiasi hasil kerja-kerja intelektualnya yang mampu merawat kesadaran kita semua, bahwa ada masalah besar di negeri ini,” tuturnya.

            “Tentunya, setelah pemutaran film ini, semua yang hadir di forum nobar dan diskusi sore ini dapat tergugah. Sadar, bahwasanya tidak perlu bertengkar gara-gara pilper, karena jelas itu tadi kan, semuanya bermain tambang,” pungkas Wahyu saat ditemui selesai acara.