‘Master’ Memancing ala Gesang: Dari Hobi Hingga Tesis

image

Selain untuk kesenangan dan kepuasan, ternyata hobi bisa dijadikan objek penelitian untuk memenuhi tugas akademik seperti skripsi, thesis, disertasi, dan yang lainnya. Hal itulah yang dialami oleh Gesang Manggala Mugraha Putra S.S., S.A., M. Hum yang memiliki hobi dan tesis tentang praktik memancing.

            Pria yang sejak kecil tinggal di Sidotopo, Surabaya ini menceritakan bahwa kesenangannya dengan dunia memancing dipantik oleh kesukaanya terhadap ikan sejak masih kecil.

            “Sejak kecil memang senang dengan ikan, dan pada saat itupun, ketika orang tua bertanya apa cita-cita saya, saya spontan jawab ingin menjadi nelayan. Meskipun dikeluarga tidak ada yang suka memancing, tapi saya bisa belajar memancing sendiri. Karena masih kecil, jadi ya sering-sering main game memancing buat belajar,” ungkapnya.

            Sementara itu, bergabungnya Gesang dengan beberapa komunitas memancing telah memperluas wawasannya tentang industri memancing di Indonesia yang ternyata sangat tertinggal jauh dari negara-negara tetangga.

            “Seiring berkembangnya internet, kan banyak bermunculan komunitas online memancing, nah dari situ saya bergabung. Bersama komunitas saya mendapatkan informasi tempat memancing, pengalaman memancing, hingga teknik memancing terbaru. Industri memancing kita sudah tertinggl jauh dengan negara tetangga. Dapat dilihat, misalnya, Teknik memancing dengan lalat, umpan mirip serangga, yang di Indonesia belum ada, jadi ya biasanya mengandalkan teman-teman yang impo,r” jelas Gesang.

            Saat ditanya perihal korelasi antara hobi dengan hasil penelitian Tesisnya yang berjudul “Maskulinitas dan Praktik Tangkap Lepas dalam Memancing: Sebuah Kajian Terhadap Sportfishing”, Gesang menjelaskan, bahwa untuk meneliti segala sesuatu, agar bisa selesai dengan tepat waktu, maka yang dijadikan objek penelitian adalah sesuatu yang disenangi.

            “Untuk penelitian sekelas skripsi, minimal tiga bulan sudah selesai. Meneliti sesuatu itu harus yang kalian senangi, karena selama penelitian akan terus bertemu dengan objek penelitian kan, kalau gak suka ya gampang bosen dan jenuh, dan itulah momok peneliti, termasuk mahasiswa. Karena itu, saya mengkaji sportfishing objek yang saya gemari,paparnya.

            Selanjutnya, ia juga menambahkan penjelasan terkait hasil penelitianya tentang sportfishing yang ternyata memiliki korelasi dengan maskulinitas. Aktivitas lepas tangkap ikan ternyata juga tak kalah maskulin dengan yang membawa pulang ikan ke rumah. Intinya, memancing adalah kegiatan yang sangat maskulin jika dipandang dalam berbagai aspek.

            Memancing adalah kegiatan yang sangat maskulin, aspek maskulintas bukan lagi membawa ikan pulang, tapi, berfoto dengan ikan yang berhasil ditangkap saja sudah cukup. Dan itu, akan membuat keseimbangan ekologis akan terjaga, karena populasi ikan tetap. Tujuan penelitian tersebut, untuk membawa dampak ekologis yang lebih positif.

            “Karena pandangan tradisional terhadap maskulinitas ada dalam sosok bapak, yang bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarga. Di satu sisi memancing itu adalah membawa pulang ikan. Di sisi yang lain, memancing hanya cukup merasakan proses mendapatkan ikan, menaklukkan ikan.  Kalau ada pemancing yang membawa ikan pulang, naluri kebapakannya lagi main dan memandang bahwa harus menafkahi keluarga. Itu naluri, manusia berburu dan meramu. Sedangkan yang lepas tangkap, apakah mereka menghianati pandangan bahwa bapak pencari nafkah? Tidak. Karena, penaklukan alam dan ikan itu sendiri juga sangat maskulin.”

            Gesang mengatakan dalam waktu dekat ia akan melakukan penelitian terbaru. Bukan tentang memancing, tapi masih berkaitan dengan ekologi.

            “Dalam waktu dekat saya akan meneliti wisata alam. Objek yang saya teliti tentang proses mencangkok terumbu karang di Madura, apakah berguna untuk wisatawan maupun alam itu sendiri, ada beberapa teman mahasiswa yang saya libatkan,” pungkasnya. (slh/kkh)