Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Volker Raddatz,Dosen Tamu Departemen Bahasa dan Sastra Inggris

image

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya kompetitif publikasi jurnal ilmiah internasional, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) menjalin kerjasama dengan SES (Senior Experten Service) Jerman, sebuah Lembaga pengiriman pakar senior terkemuka Jerman untuk menjadi relawan kependidikan dan eksekutif yang sudah pensiun.

            Kerjasama yang dijalin dalam bentuk kehadiran sosok Prof. Dr. Volker Raddatz yang merupakan pensiunan Humboldt University, Jerman, di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unair. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali mendapatkan undangan mengajar dari universitas ternama di Indonesia dengan program yang sama. Selama di FIB Unair, Prof. Volker memberikan pelatihan kepenulisan jurnal ilmiah internasional dan berbagai aktivitas pengajaran (kuliah tamu).

Perihal kerjasama tersebut, saat ditemui di ruang Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Prof. Volker mengungkapkan motivasi serta antusiasinya mengikuti program SES di FIB. Ia menambahkan, Indonesia adalah tempat yang membuatnya nyaman karena orang-orangnya sangat ramah.

“Di Indonesia, saya merasakan keramahan yang sangat luar biasa, keramahan inilah yang membuat saya menyukai pekerjaan dan waktu luang saya. Pekerjaan saya disambut dan dihargai civitas akademika, termasuk oleh mahasiswa,” tutur pria kelahira 5 Juli 1943 tersebut.

Di sisi lain, Prof. Volker juga menyampaikan tanggapanya tentang iklim akademik di FIB. Ia menyampaikan kekagumannya terhadap kurikulum yang terbagi dalam tiga aspek, hampir sama dengan kurikulum yang ada di universitas di Jerman. Departemen Bahasa dan Sastra Inggris memiliki tiga peminatan yaitu, Linguistik (misalnya leksikografi), Literatur (Sastra Amerika dan Sastra Inggris), dan Cultural Studies, yang merupakan kepakaran Prof. Volker, terutama pada Post Colonial Studies.

“Salah satu kepakaran saya adalah Post Colonial Studies dan kajian tersebut ada di FIB Unair. Saya juga berasal dari Departemen Bahasa dan Sastra Inggris di Jerman dan ini adalah untuk pertama kalinya oleh SES saya ditugaskan di departemen yang sama. Saya merasakan iklim akademik yang bagus disini, seperti di rumah sendiri, di Jerman” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Anglistik, Humboldt University, Berlin 1996-1998 ini juga memiliki harapan target pribadi selama menjalani program SES di FIB Unair. Selain memberikan pelatihan penelitian dan penulisan, ia juga diminta untuk berbagi ilmu di aspek lain, seperti metode pembelajaran dan kajian lintas budaya.

“Ekspetasi saya sudah terpenuhi, bahkan terlampaui. Saya awalnya, diundang untuk meningkatkan kualitas tulisan ilmiah para pengajar di FIB. Namun saat sudah disini, ternyata saya juga diminta berbagi tentang metode mengajar dan penelitian kajian lintas budaya. Meskipun kini tugas yang saya emban lebih banyak namun saya sangat senang menjalaninya” pungkasnya. (slh/kkh)