UNAIR NEWS – Eksistensi Indonesia sebagai bangsa majemuk memang rentan terhadap ancaman disintegrasi. Suku, agama, ras dan budaya yang beragam bisa saja saling berkonfrontasi, tatkala yang satu mengklaim lebih unggul dari pada yang lain.

Tahun baru Imlek menginspirasi Kementerian Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) dalam menggelar diskusi suku, agama, ras dan budaya (SARA). Tema yang diangkat ialah Kontradiksi Pribumi Jawa dengan Etnis Tionghoa pada Senin (26/3/2019), di Ruang Chairil Anwar FIB.

Turut hadir dalam acara tersebut Shinta Devi Rahayu, S. S., M.Hum seorang dosen sejarah di FIB, Nadia Santosa, dan Mahasiswa FIB keturunan Jawa-Tionghoa. Shinta menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan orang-orang Tionghoa tidak diterima kehadirannya oleh masyarakat Indonesia. Salah satu penyebabnya ialah cara pandang yang salah terhadap orang-orang luar yang datang dan kemudian tinggal di Indonesia.

“Kita selalu memandang orang-orang Tionghoa sebagai tamu. Padahal mereka sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Saat mereka sudah berstatus sebagai WNI, kita seharusnya mengganggap mereka sebagai saudara yang hidup dalam satu rumah, bukan lagi sebagai tamu dan tidak ada pribumi dan non pribumi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Shinta menjelaskan cara untuk menghilangkan stigma negatif terhadap orang imigran ialah dengan menciptakan sekolah inklusif. Menurutnya, sekolah diperuntukkan untuk semua golongan. Misalnya untuk anak keturunan asli Indonesia, Tionghoa, dan anak yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

Sementara Aden Rafi Ali, Menteri Kajian Strategis BEM FIB mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi tersebut yaitu untuk membangun budaya berpikir kritis dikalangan mahasiswa FIB. Mahasiswa FIB harus peka terhadap kondisi sosial dan lingkungan sekitarnya.

“Selama ini yang sering dianggap kritis ialah mahasiswa FISIP dan mahasiswa Fakultas Hukum (FH). Oleh karena itu BEM FIB juga ingin menunjukkan bahwa mahasiswa FIB adalah mahasiswa yang kritis,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Ransis Putra Gaut

Editor: Khefti Al Mawalia

Sumber : http://news.unair.ac.id/2019/03/27/bangun-budaya-kritis-di-kalangan-mahasiswa-bem-fib-gelar-diskusi-sara/