Sentra Kerohanian Islam (SKI) FIB Akrabkan Lagi Seni Banjari

image

Organisasi Kemahasiswaan berbasis agama di FIB tidak semata mempelajari agama, namun juga kesenian yang bernuansa religius. Salah satunya adalah Seni Banjari, yang kini semakin diakrabi mahasiswa FIB.

Al-Banjari adalah sebuah seni musik tradisi Islam yang berasal dari Kalimantan. Iramanya yang menghentak, rancak dan variatif membuat kesenian ini masih banyak digandrungi oleh generasi muda Islam hingga kini. Tak terkecuali mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Di Fakultas Ilmu Budaya, keberadaan komunitas Seni Banjari cukup lama tidak terdengar gaungnya. Komunitas ini sempat menghilang dari peredaran, karena kurangnya perhatian. Padahal, pada beberapa kepengurusan Sentra Kerohanian Islam (SKI) sebelumnya. Kini, kepengurusan SKI di bawah komando Adyt Alkautsar, komunitas Seni Banjari kembali dihidupkan sebagai wahana aktualisasi.

“Saya melihat cukup banyak mahasiswa/i FIB yang memiliki minat bakat dalam bidang seni religi, terkhusus Seni Banjari. Sayang kan kalo hal ini tidak diwadahi dengan baik. Maka dari itu kami berupaya kembali menghidupkan komunitas Seni Banjari, selain mewadahi minat mahasiswa, Seni Banjari bisa ditampilkan dalam setiap event yang ada di fakultas, bahkan bisa menggapai prestasi dengan mengikuti kompetisi, ini juga bagian dari syiar Islam dalam bidang seni religi,” ujar Adyt Alkautsar, Ketua SKI FIB UNAIR 2019

Terbukti, cukup banyak mahasiswa yang bergabung dengan komunitas Seni Banjari. Bahkan dalam kesempatan latihan sekretariat SKI penuh sesak. Kedepannya komunitas ini akan melakukan latihan rutin setiap hari Rabu malam pukul 18.30-20.30 WIB di Sekretariat SKI dan Musholla FIB. Komunitas Seni Banjari ini dilatih oleh Chafid Ilham (Sejarah 2017), Krishna (Sejarah 2018) dan Fathimah Al Batul (Bahasa dan Sastra Indonesia 2017) ketiganya merupakan anggota aktif UKM Seni Religi Universitas Airlangga.

“Harapannya untuk komunitas Banjari FIB kedepannya dapat menjadi komunitas pioner yang selalu istiqomah dalam mensyiarkan dakwah melalui seni baik di dalam lingkungan kampus maupun diluar kampus,” tutur Chafid.

Ke depan, menurut salah satu pelatih Seni Banjari, Krishna, komunitas ini diharapkan dapat semakin berkembang, berprestasi dan menghadirkan iklim yang menyejukkan di fakultas dengan lantunan-lantunan sholawat.

“Semoga teman-teman yang tergabung di komunitas Seni Banjari FIB tetap istiqomah dalam bersyiar melalui seni hadrah Al-Banjari sebagai salah satu bentuk cinta terhadap Rasulullah. Dengan latihan yang sungguh-sungguh, saya berharap komunitas Seni Banjari bisa ikut berpartisipasi meramaikan berbagai festival Banjari. Dan juga membuat suasana FIB UNAIR menjadi lebih adem melalui lantunan-lantunan sholawat,” pungkasnya.