image

Komunitas Timur Lawu bersama Departemen Ilmu Sejarah Gelar Seminar Jalur Pos Dandels

De Grote Postweg atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Raya Pos merupakan sarana infrastruktur yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Jalan Raya Pos juga identik dengan nama jalan Daendels sesuai dengan inisiatornya yakni Herman Willem Daendels. Pembangunan jalan dari Anyer di bagian barat Jawa hingga ke Panarukan di belahan timur Jawa membuat nama sang Gubenur Jenderal yang berkuasa dari tahun 1808 hingga tahun 1811 ini begitu fenomenal.

Dalam rangka menyegarkan kembali memori terkait dengan Daendels beserta proyek infrastukturnya, Komunitas Timur Lawu yang didukung oleh Departemen Ilmu Sejarah menyelenggarakan Seminar yang bertajuk “De Grote Postweg: Warisan Budaya dan Sejarah di Sepanjang Jalan Pos Daendels Jawa Timur”. Dalam seminar yang diadakan pada tanggal 15 November 2018 di Ruang Auditorium Siti Parwati ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Purnawan Basundoro, Dr. Sarkawi Husain, dan Adrian Perkasa, S.Hub.Untl.,S.Hum.,M.A

Seminar tersebut membicarakan tentang dampak yang ditimbulkan pembangunan jalan raya pos bagi masyarakat Indonesia. Dr. Purnawan Basundoro, selaku Dosen sekaligus tim ahli cagar budaya kota Surabaya, menerangkan pembangunan jalan raya dapat mendorong terjadinya aglomerasi, pengelompokan suatu gejala yang terkait dengan aktivitas manusia. Daendels banyak membuat kebijakan-kebijakan yang seringkali dianggap negatif. Produksi dan reproduksi buku sejarah baik yang akademis maupun populer, karya sastra dan buku cerita yang mengambil latar belakang periode Daendels hingga film historis menempatkan Daendels sebagai sosok yang jahat, bengis, dan tak berperikemanusiaan karena memaksa rakyat demi selesainya pembangunan Jalan Raya Pos. Tidak heran apabila masyarakat Jawa mengenang Daendels dengan menjulukinya sebagai Tuan Besar Guntur yang kejam.

Sosok Daendels seperti yang disebutkan di atas seolah-olah menutupi peran penting dari ruas jalan yang dibangunnya. Padahal seperti yang dapat disaksikan dalam perjalanan sejarah khususnya di kawasan Pantai Utara Jawa, terdapat perkembangan kota-kota pantai yang semakin besar meski tidak jarang pula sejarah merekam beberapa daerah yang dulunya makmur kemudian lenyap. “Dengan adanya Dengan adanya jalan raya maka komunikasi antar manusia menjadi semakin cepat, sehingga ide-ide kemodernan pun tersebar secara cepat.” simpul beliau. (rni/kkh)