Sambut Tahun Politik 2019, FIB Unair Adakan Seminar Nasional Quo Vadis Ilmu Budaya

image

Sambut Tahun Politik 2019, FIB Unair Adakan Seminar Nasional Quo Vadis Ilmu Budaya

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga menggelar Seminar Nasional bertajuk “Quo Vadis Ilmu Budaya Jelang Tahun Politik 2019”, Selasa (30/10/2018), di Ruang Auditorium Siti Parwati FIB. Terdapat empat pembicara dengan dua sesi yang berbeda, yaitu Prof.Dr.F.X. Armada Riyanto,CM., Dr. Seno Gumira Ajidarma, Daniel Dhadidae,Ph.D., dan Mochtar Pabottingi,Ph.D.

Dalam seminar yang dilaksanakan dari pagi hingga sore hari itu membicarakan tentang posisi masyarakat humaniora dalam memandang tahun-tahun politik yang saat ini bangsa Indonesia jelang. Prof.Dr.F.X. Armada Riyanto,CM. mengungkapkan, bahasa menjadi alat permainan politik. Sebagian masyarakat tetap menggunakan bahasa Indonesia tetapi pembahasaannya tidak berakar dari khasanah ke-Indonesiaan. Alhasil, lokalitas kenusantaraanpun turut dipertanyaakan keberadaannya. Beliau mengungkapkan, “Peradaban kajian sastra dan budaya tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya lokalitas. Sesuai dengan jargon ‘berpikir dan bertindaklah dalam lokalitas, karena pada saat yang sama tindakan tersebut akan mengglobal,” tandasnya.

Kondisi kebudayaan Indonesia saat ini juga cukup membingungkan karena tidak adanya otoritas kebenaran membuat masyarakat bingung dalam menyikapinya terutama untuk masyarakat awam. Serta merosotnya literasi surat kabar, banyak terciptanya intoleransi, populisme hingga radikalisme. Seperti yang diungkapkan oleh Mochtar Pabottingi, “Dalam mengembalikan otoritas tersebut dapat dilakukan dengan tradisi kerendahatian.” ujarnya.

Sementara, Seno Gumira Ajidarma mengajak kita untuk terus bersikap kritis. Media literasi menjadi salah satu alat melakukan pelawanan. Termasuk perlawanan terhadap praktik-praktik hoax yang diungkap oleh Daniel Dhakidae,Ph.D. bahwa dunia pasca-kebenaran syarat dengan pretensi, karena dulu pun jurnalisme tidak mengejar kebenaran akan tetapi kenyataan. Hal tersebut kemudian beliau simpulkan, “Dalam hubungan itu politik juga berubah. Politik tidak lagi dikuasai oleh fakta, akan tetapi lebih dikuasai oleh rasa.” tuturnya.

Seminar tersebut telah dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri dari tamu undangan dan mahasiswa. Dr. Adi Setijowati,M.Hum., selaku ketua panitia dalam seminar nasional kali ini berharap bahwa sebagai masyarakat humaniora dilarang untuk mudah percaya terhadap berita yang diterima secara mentah, “Mau menyimak, bukan asal percaya pada hal apapun tidak berada dalam kedangkalan berpikir,” tandas beliau. (rni/kkh)