Mahasiswa Ilmu Sejarah Menjadi Juara 2 Lomba Penulisan Cagar Budaya

image

Mahasiswa Ilmu Sejarah Raih Juara 2 di Seminar Nasional Penulisan Cagar Budaya

Mohammad Masrudin Firdiyansyah, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah FIB UNAIR ini baru saja meraih juara dua pada Seminar Nasional Peluncuran Buku dan Penghargaan Pemenang Lomba Penulisan Cagar Budaya di Jakarta pada 20 Oktober 2018 lalu. Ferdi, begitu ia disapa, mengaku bahwa kegiatan ini memberinya kesempatan berinteraksi dengan tokoh-tokoh hebat nasional dan memperkenalkan Gresik ke kancah nasional.

Berpartisipasi pada sub tema “Hari Purbakala 105”, Ferdi mengirimkan dua karyanya pada kedua kategori yang tersedia yakni “Aku dan Purbakala” dan “Toponimi”. Ia menyatakan bahwa pada kategori lomba “Aku dan Purbakala” judul karya yang dikirimkan berjudul “Candi Sukuh dan Relief Vulgar: Interpretasi Purba VS Kiwari” yang membahas tentang keunikan bentuk relief di Candi Sukuh yang berbentuk kelamin. “Candi Sukuh memiliki bentuk relief yang sangat unik, menurut juru kunci, orang zaman dulu memaknai simbol kelamin sebagai sesuatu yang sakral, berbeda dengan orang zaman sekarang yang memaknainya sebagai simbol seksual semata,” sambungnya.

Sedangkan pada kategori “Toponimi”, karya yang ia kirimkan berjudul “Studi Komparatif Toponimi Kabupaten Gresik” yang membahas tentang asal-usul wilayah Gresik melalui studi ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Meskipun keduanya mampu menembus sepuluh besar, karyanya yang berjudul “Studi Komparatif Toponimi Kabupaten Gresik” lah yang ditetapkan sebagai juara 2 pada kategori lomba toponimi pada lomba penulisan “Hari Purbakala 105”

Melalui seminar nasional yang diadakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, bekerjasama dengan Perkumpulan Ahli Arkeologi serta Komunitas Luar Kotak ini, Ferdi berharap karyanya mampu membawa nama Gresik pada lingkup nasional, serta masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya nusantara. “Karena budaya adalah identitas bangsa yang tak ternilai harganya. Selain itu, mudah-mudahan melalui seminar ini, semakin banyak bermunculan komunitas penggiat cagar budaya untuk melestarikan warisan budaya kita.” tutupnya. (dil/kkh)