JPRUTT SAMBUT MAHASISWA BARU FAKULTAS ILMU BUDAYA

image

JPRUTT SAMBUT MAHASISWA BARU FAKULTAS ILMU BUDAYA

Malam itu, tanggal 23 Agustus 2018, Gedung Pertunjukan Balai Budaya Surabaya dipenuhi oleh wajah-wajah antusias dari Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya. Deret antrean mengular mewarnai koridor luar gedung pertunjukan. Kursi-kursi pun telah siap jadi teman saksi mata Pentas Jprutt yang dipelopori oleh Teater Mandiri ini. Gedung berkapasitas lebih dari 600 orang itu pun telah sesak dipenuhi penonton.

Acara bermula dari penyambutan yang disampaikan oleh Bu Diah Ariani Arimbi selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, yang menyebut bahwa pentas tersebut merupakan bentuk perayaan ultah Fakultas Ilmu Budaya ke-30. Selanjutnya, diadakan pula penyerahan kumpulan 100 karya Putu Wijaya ke seluruh Dekanat FIB oleh para perwakilan dari Teater Mandiri. Pesannya pada para penonton ialah, “Kalau ingin tertawa, tertawalah. Kalau tidak tertawa, nanti pemain kami grogi.”

Lampu panggung menyorot. Akhirnya, pentas yang dinantikan pun dimulai. Diawali dengan dialog antara sepasang suami istri, Pak dan Bu Amat, yang mendapat surat terjemahan dari Prof. Co yang telah melakukan perjalanan ke Bali untuk melihat letusan Gunung Agung lebih dekat. Surat tersebut berisi tentang kesannya terhadap bangsa Indonesia yang telah diterjemahkan oleh Ami (putri tunggal sepasang suami istri tersebut)-yang menemani sang profesor selama di Bali-ke dalam bahasa Indonesia. Surat tersebut berisi kritikan untuk bangsa Indonesia yang dianggap lamban dalam menghadapi segala perubahan. Akibatnya, keputusan bangkit baru diambil ketika segala sesuatu telah terjadi. Kedua orang tua Ami merasa ucapan Prof Co. merupakan sebuah penghinaan.

Babak berikutnya menampilkan Bunda Agung Prameswari yang diperankan oleh Niniek L. Karim, sebagai sosok yang mencalonkan diri menjadi bupati ikut pula mengutip isi surat dari Prof. Co karena menganggap itu sebagai sebuah introspeksi yang bagus sekali untuk mengobarkan semangat kebangkitan. Prof. Co berusaha untuk menemui Bunda Agung kembali untuk menandaskan bahwa dia tidak pernah berkata seperti itu. Ia justru memuji bahwa Indonesia adalah negeri ajaib yang bisa menyatukan 1100 suku bangsa dan 714 bahasa dalam damai meski berbeda-beda berkat Pancasila.

Di akhir cerita, diketahui bahwa surat itu merupakan esai Ami untuk Bali Pos dan menandaskan Prof Co tidak pernah mengeluarkan opini yang menghina. Itu adalah opini pribadi Ami, yang berbunyi “Bukan warna yang membedakan kita, tetapi hati dan kekuatan. Bukan kami yang menghitamkan putih, tetapi noda hitam dalam putih itu sendiri yang sudah menghitamkan semua yang putih,” yang merujuk pada prasangka yang menyulut banyak konflik berlandaskan kebencian.

Pentas ditutup oleh visualisasi yang magis peristiwa letusan Gunung Agung. Siluet dan permainan lampu berhasil memukau pentas pada malam itu. Hal tersebut tidak lepas dari peran tangan dingin sang sutradara, Putu Wijaya. Beliau menuturkan, pentas ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Teater Mandiri sebagai momentum perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pentas Jprutt, dihadirkan sebagai sebuah renungan bangsa Indonesia dalam menghadapi masa depan. Bagaimana wujud apresiasi bangsa terhadap cara pandang orang Barat. “Jangan lagi kita memberhalakan mereka. Tapi lebih baik kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” tuturnya.

Pentas ini memang sengaja dihadirkan dalam rangka penyambutan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2018. Puji Karyanto, selaku Wakil Dekan I menyatakan, pentas ini merupakan media pengenalan bagi mahasiswa baru untuk pengetahuan awal dunia kesusastraan. “Dengan diperkenalkan sastrawan nasional sejak awal diharapkan mahasiswa baru akan lebih paham tentang peta sastra Indonesia secara keseluruhan.”tegas beliau. Melihat dari audiensi yang ada, beliau juga menandaskan bahwa kedepannya akan ada lagi pentas-pentas serupa dari beberapa nama atau kelompok sastrawan nasional yang lain. (rna/ana/kyk)