ALUMNI ILMU SEJARAH DIRIKAN KOMUNITAS TIMUR LAWU: RAIH HIBAH FASILITASI KOMUNITAS KESEJARAHAN TAHUN 2018 DARI KEMENDIKBUD

image

ALUMNI ILMU SEJARAH DIRIKAN KOMUNITAS TIMUR LAWU:

RAIH HIBAH FASILITASI KOMUNITAS KESEJARAHAN TAHUN 2018 DARI KEMENDIKBUD

 “Sejarah manusia adalah sejarah sepatu. Sejarah tentang tempat dimana ia pernah berpijak dan menjejak.”
― Stebby Julionatan

Itulah yang diserukan Akhmad Ryan Pratama dalam acara Jelajah Sejarah: De Grote Postweg, Minggu, 26 Agustus 2018 di Lamongan dan Gresik. Pemuda berdarah asli Surabaya tersebut lahir pada tanggal 20 Agustus 1990, Ryan, begitu ia akrab disapa, merupakan alumni Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2007. Ia merupakan mantan ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah Tahun 2009 yang saat ini tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan kesejarahan, salah satunya komunitas yang ia dirikan, yakni Komunitas Timur Lawu.

Komunitas ini baru didirikan pada tanggal 16 Agustus 2015. “Ini merupakan sebuah kristalisasi pencaria jawaban atas munculnya fenomena-fenomena rusaknya berbagai cagar budaya dan lingkungan di Jawa Timur,” ujarnya. Akhirnya, komunitas ini pun mengusung visi menjaga kelestarian alam dan budaya yang ada di Indonesia untuk masa depan yang lebih baik. Selain itu, misi komunitas ini ialah menanamkan benih-benih kesadaran untuk melestarikan lingkungan, baik alam maupun budaya yang terkandung di dalamnya.

Hebatnya, baru sekitar 3 tahun komunitas ini berdiri, Komunitas Timur Lawu telah mencatatkan namanya di dalam kementrian Pendidikan Republik Indonesia sebagai salah satu komunitas kesejarah yang menerima dana hibah Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2018.

Melalui kerja kerasnya, Ryan, panggilan akrab Direktur Utama komunitas ini banyak mengadakan kegiatan diskusi, penulisan, lawatan sejarah, advokasi, penelitian ilmiah, dan penerbitan tulisan secara online. Banyak kegiatan dari Komunitas Timur Lawu ini yang tidak membebankan biaya pada para peserta, alias gratis.

Uniknya, komunitas ini memiliki 11 anggota dengan latar belakang pendidikan beragam. Ada yang memang dari mahasiwa Ilmu Sejarah, ada pula mahasiswa teknik, bahkan mahasiswa dari Fakultas kedokteran pun ikut menjadi bagian dari komunitas ini. Ryan berharap, dengan adanya komunitas ini, mereka mampu mengajak para pemuda meningkatkan rasa kesadaran atas lingkungan dan kebudayaan. “Sehingga akan memupuk rasa ikut memiliki yang menadi salah satu elemen paling mendasar dalam melestarikan lingkungan dan budaya,” imbuhnya. (rni/ana/kyk)