COMMUNITY OUTREACH PROGRAMME BERSAMA MAHASISWA UNIVERSITI BRUNEI DARUSSALAM

image

COMMUNITY OUTREACH PROGRAMME BERSAMA MAHASISWA UNIVERSITI BRUNEI DARUSSALAM

Sebagai bentuk kerja sama antar institusi, para mahasiswa Universiti Brunei Darussalam (UBD) dikirimkan ke Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar, pada tanggal 11 Agustus 2018 kemarin.

Foto-foto: Para Mahasiswa Universiti Brunei Darussalam berpose di depan Fakultas Ilmu Budaya sebelum pemberangkatan ke Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar

Pada tanggal 11 Agustus 2018 lalu, sebanyak 30 mahasiswa semester 5 lintas jurusan dari Universiti Brunei Darussalam mengikuti Community Outreach Programme (COP) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar. Program ini telah berjalan selama 6 tahun (tahun 2018 ini adalah tahun ke-6). Dalam wawancara dengan  Dahlia Fatmawati, S.Hum., yang menjabat Sekretaris Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, yang turut mengantarkan ke-30 mahasiswa tersebut ke Desa Kemloko, beliau bercerita bahwa, “Jadi Community Outreach Programme ini merupakan program dari Universiti Brunei Darussalam sendiri. Itu semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN) kalau di UNAIR. Nah, program mereka itu kan memang dilaksanakan di luar negeri. Kalau di Indonesia, salah satunya adalah di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Airlangga (UNAIR). Kalau yang di Unair itu bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya. Itu sebagai bentuk implementasi kerja sama antara FIB dengan UBD, selain pertukaran pelajar. Kita hanya membantu mengelola program itu yang dilaksanakan di sini. Tapi kalau program semacam itu dari sini ke sana belum ada. Rencananya tahun ini akan ada mahasiswa ke sana, tapi belum pasti karena masih digodok. Mau bentuknya sit-in atau workshop, belum tahu. Ini ketiga kalinya kami mengirim mahasiswa UBD ke Desa Kemloko untuk COP.”

Untuk durasi pelaksanaan program COP tersebut,  Dahlia menerangkan bahwa durasi yang sebenarnya ialah 100 hari. Itu kalau dari FIB sendiri, menempatkan di Desa Kemloko itu hanya 1 bulan karena mereka harus segera balik ke Surabaya untuk mengurus perpanjangan stay permit. Karena saat harus mengurus perpanjangan, mereka harus ada di Surabaya karena harus berfoto di imigrasi.”  Dahlia lantas meneruskan penjelasan lebih jauh mengenai aktivitas apa saja yang akan dijalani oleh para mahasiswa dari UBD tersebut. “Nah, jadi Desa Kemloko itu kan desa wisata, dan di sana juga terkenal dengan budayanya, antara lain Reyog Bulkio, lalu Macapat, dan wayang, yang sepertinya berbeda dengan wayang di sini. Selain itu, di sana juga ada budidaya Ikan Koi. Masyarakatnya juga bikin gula merah. Jadi, kegiatannya mahasiswa di sana itu ya itu tadi belajar Reyog juga, belajar tentang produksi gula, budidaya koi, pembuatan keripik, macam-macam sih, termasuk ngajar juga. Dan mereka juga belajar pengetahuan tentang budaya-budaya itu tadi juga.”

Mengenai hasil atau output dari kegiatan COP tersebut,  Dahlia menjawab, “Nanti di akhir mereka diwajibkan membuat laporan ke Brunei dan ke kita. Kalau bikin program sih tidak, karena di Kemloko itu kan sudah desa wisata, jadi mereka sudah punya Kopja atau Kelompok Kerja. Itu mereka yang jadi koordinator kegiatan bagi mahasiswa UBD. Jadi mereka yang membuat jadwalnya, pembagian hari ini siapa yang ngajar, dan mereka tinggal di rumah penduduk. Jadi karena itu desa wisata, penduduknya sudah disiapkan untuk menerima wisatawan, jadi siap dijadikan homestay. Dari segi kebersihan, kelayakan, sudah dikondisikan, dan kesiapan masyarakatnya dalam menghadapi orang asing juga sudah baik. Dan karena yang sekarang mahasiswanya berjumlah 30, jadi jumlah yang terbesar, maka yang dilibatkan tidak hanya Desa Kemloko, tapi melibatkan desa-desa sekitar. Karena memang Kemloko ini desa percontohan sebagai desa wisata. Jadi intinya, untuk ngajarin desa-desa sebelah juga. Gimana caranya untuk menjadi desa wisata, tapi untuk yang meng-handle orang Kemloko. Para mahasiswa itu kemarin terbagi ke dalam 6 rumah. Penjemputan akan kami lakukan kira-kira pada 9 September nanti.”

Ditanya apakah ada kegiatan lagi setelah para mahasiswa kembali dari Desa Kemloko,  Dahlia menjawab, “Ada. Kalau dari FIB, kegiatannya masih digodok atau diskusikan. Tapi kita ada beberapa opsi, misalnya sebagai bentuk implementasi kerja sama dengan Yayasan Al-Azhar, mereka akan ditempatkan di Al-Azhar, tepatnya di SMA-nya yang bertempat di daerah East Coast, Kenjeran, sebagai tenaga bantu, dan juga ditempatkan di Urban Care Community (UCC). Itu adalah komunitas yang diprakarsai oleh Icak Sasing, Wahidatul Komariyah, itu kan komunitas yang fokus pada anak-anak di sekitar Jagir-Wonokromo. Semester yang lalu, teman-teman UBD yang ditempatkan di UCC itu sangat senang, karena mereka jadi tahu ada sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang sudah mereka ketahui. Mereka baru tahu ada fenomena atau fakta seperti ini, jadi di sana kan mereka ngajarin anak-anak di sana. Kalau di Brunei kan mereka tidak tahu. Kalau opsi lain, dulu-dulu mengajar di Rumah Bahasa, cuma feedback dari teman-teman itu tidak terlalu bagus. Jadi, bagi mereka, itu kurang mengena di program mereka. Yang lebih mengena di UCC. Jadi kemungkinan besar akan kita tempatkan di UCC dan Al-Azhar. Kemungkinan besar, tapi kita juga tetap mempertimbangkan jumlah mahasiswa yang besar, yang 30 tadi, terkait pengaturan jadwal. Bisa jadi juga karena ada 30 anak, untuk di Al-Azhar, kami tidak hanya menempatkan di SMA, tetapi juga di SD dan SMP-nya. Sebetulnya mereka sempat usul di Sidoarjo, tapi karena juga terkait masalah jarak dan tempat tinggal, sepertinya kami tidak akan menyetujui usulan tersebut.” (ana/kyk)