FIB TERIMA 502 MAHASISWA BARU

image

FIB TERIMA 502 MAHASISWA BARU

Mulai tanggal 8 sampai 11 Agustus 2018, Fakultas Ilmu Budaya menyelenggarakan kegiatan orientasi Mahasiswa Baru yang dijadwalkan di fakultas.

Dalam wawancara dengan Pak Bayu Laksono, S.E., selaku Kasubag Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya, acara Bradanaya (Bergerak dalam Wahana Budaya) 2018 kali ini sedikit berbeda dengan tahun lalu. Pak Bayu menuturkan bahwa, “Tahun ini tidak ada malam keakraban seperti tahun-tahun sebelumnya. Malah, jika BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) nekad melanggar dan tetap mengadakan, bisa-bisa BEM dibekukan. Tahun ini mudah-mudahan acara Bradanaya lebih fun karena saya selalu mengajak adek-adek dari BEM untuk menyayangi adik-adik tingkatnya. Saya bilang ke mereka, ‘Bikin acaranya fun saja. Makan-makan, nyanyi-nyanyi, yang gampang-gampang saja. Kalau dibuat disiplin seperti tentara nanti nggak akan enak.” Saat ditanya mengenai kekurangan dari program PKKMB 2018 kali ini, Pak Bayu menjawab bahwa adanya kekurangkompakan dalam Ormawa yang ditampilkan di kampus C. “Acara display tampak kurang terorganisir dengan baik. Manajemennya kurang bagus. Mereka menyuruh saya dan teman-teman datang, tapi ternyata pekerjaan di sana sudah di-handle orang lain. Jadinya kan tidak efektif.” Selain itu, beliau mengungkapkan bahwa BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sempat mendapat sponsor, dan pihak sponsor sempat turut mengisi acara, padahal seharusnya pihak sponsor cukup menitip nama saja, tidak ikut-ikutan memberikan materi. Poin yang keempat ialah masalah kendaraan. Pak Bayu menganggap bahwa BEM kurang jelas dalam menentukan peraturan terhadap Mahasiswa Baru. “Untuk peserta PKKMB, tidak jelas boleh atau tidak bawa kendaraan. Akibatnya, mereka mayoritas diantar orang tua dan akhirnya menimbulkan kemacetan berkepanjangan di kampus C kemarin,” ungkapnya.

Pak Bayu juga berpesan untuk para Maba FIB, yakni “Mudah-mudahan maba dapat mengetahui sejarah fakultas, fasilitas-fasilitas fakultas sehingga saat mulai kuliah sudah ngerti. Semoga kakak-kakak senior juga bikin acara yang menyenangkan, agar dapat makin mempererat ikatan alumni. Menurut saya, jika Unair ingin jadi universitas yang besar, maka harus segera merubah sistem, yakni berorientasi pada ‘pelanggan’, yaitu mahasiswa. Sukses universitas ditentukan dari kekompakan alumni”. Sambil tersenyum, Pak Bayu menambahkan, “Seperti slogan nasi Padang, ‘Kalau enak, tolong beritahu yang lain. Kalau tidak enak, bicaralah pada kami.’ Untuk tahun depan, saya berharap agar acara dibuat fun agar adik-adik sayang dengan senior. Bisa juga nanti bikin tutorial, dan sebagainya. Tidak perlu bentak-bentak, nanti trauma.”

Senada dengan mandat Pak Bayu, Ketua Bradanaya 2018, Yoga Bagus Febrianto dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris angkatan 2016, turut menyatakan hal serupa. Dalam wawancaranya, Yoga menyebut bahwa tema utama dari acara Bradanaya kali ini ialah deradikalisasi, yakni: 1) karsa budaya, yakni menangkal radikalisme, dan 2) menamengi para mahasiswa baru agar tidak mengarah ke radikalisme yang salah. Terkait pengenalan Ormawa, Yoga berkata, “Tahun-tahun sebelumnya saat mengenalkan fakultas lebih jauh, kita kekurangan panggung untuk show off. Selama ini porsi tersebut cenderung diberikan pada UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), sehingga pada akhirnya Ormawa fakultas sering kekurangan anggota karena lebih banyak ditarik oleh UKM. Makanya untuk tahun ini kami rikues untuk mengadakan display Ormawa besar-besaran di hari kedua. Temanya juga sesuai dengan tagline BEM, yakni ‘guyub rukun’.”

Selama tiga hari sampai tanggal 11 Agustus, Yoga telah membuat rencana bagi Maba FIB 2018, yakni, “Hari pertama akan berisi penyampaian materi, berupa deradikalisasi dan karsa budaya. Hari kedua ialah display Ormawa, yang berupa safari dan display. Untuk hari ketiga, akan ada sosialisasi PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dari Perpustakaan. Untuk malam penutupan, kita akan mengadakan acara makan-makan. Sejauh ini, pembagian 3 hari seperti ini efektif ternyata. Untuk tahun ini kami menghilangkan art show dan menggantinya dengan display Ormawa.” Saat disinggung mengenai pesan dari Pak Bayu untuk membuat acara bebas dari perpeloncoan, Yoga mengiyakan pernyataan tersebut. “Benar, kami diminta untuk membuat acara yang fun dan mampu mendekatkan antara junior dan senior. Balayudha tetap ada, tapi tugas mereka kali ini ialah mengajarkan dan mengedukasi, bukan pressing.” Terakhir, Yoga berkata bahwa untuk ke depannya, ia berharap agar acara Bradanaya akan selalu sejalan dengan BEM departemen.

Tambahan lagi, tahun ini mengalami peningkatan dalam jumlah Mahasiswa Baru yang diterima Fakultas Ilmu Budaya, dengan jumlah total Maba 506 orang. Adapun rincian jumlah Maba S1 angkatan 2018 ialah: Bahasa dan Sastra Inggris sebanyak 189 orang, Bahasa dan Sastra Indonesia sebanyak 154 orang, Studi Kejepangan sebanyak 63 orang, dan Ilmu Sejarah sebanyak 100 orang. Selain itu, rincian jumlah Maba S2 ialah: S2 Kajian Sastra dan Budaya sebanyak 36 orang termasuk Fast Track, S2 Ilmu Linguistik sebanyak 22 orang. Peningkatan ini cukup mencolok jika dibandingkan dengan tahun 2017 kemarin, yakni total sebanyak 539 orang dengan rincian mahasiswa S1: Bahasa dan Sastra Indonesia sebanyak 155 orang, Bahasa dan Sastra Inggris sebanyak 186 orang, Studi Kejepangan sebanyak 65 orang, Ilmu Sejarah sebanyak 94 orang, S2 Kajian Sastra dan Budaya sebanyak 18 orang, dan S2 Ilmu Linguistik sebanyak 21 orang.