Dream Big, but Start Small: Writing Clinic Dosen Fib dengan Dr Vivek Neelakantan

image

DREAM BIG, BUT START SMALL: WRITING CLINIC DOSEN FIB

DENGAN DR VIVEK NEELAKANTAN

Menulis dan publikasi adalah keniscayaan dalam dunia akademis. Karena itu, Fakultas Ilmu Budaya mengadakan journal writing untuk menembus target publikasi jurnal internasional

Acara writing clinic yang digagas oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, diselenggarakan pada 23-26 Juli 2018 dimentori oleh Vivek Neelakantan, B.A., M.A., M.Phil., M.A., Ph.D, dosen tamu dari Mumbai, India, sekaligus ahli sejarah kesehatan (social history of medicine) di Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan dengan tujuan membantu para dosen di FIB untuk menulis publikasi jurnal internasional terindeks Scopus, yang saat ini menjadi prasyarat dalam rangka menaikkan peringkat Universitas Airlangga untuk masuk ke dalam peringkat 500 besar di QS World University. Para peserta yang hadir dalam acara tersebut ialah Wakil Dekan III, yakni Bu Rizki, para dosen dari prodi Ilmu Sejarah: Pak Gayung Kasuma, S.S., M.Hum., Pak Sarkawi B. Hussain, S.S., M.Hum., Bu Eni Sugiarti, S.S., M.Hum., Sintha Devi ISR, S.S., M.A., dan Pak Arya Wanda Wirayuda, S.S., M.A.,  Peserta lainnya ialah para dosen program Sastra Jepang: Bu Parwati Hadi Noorsanti, S.S., M.Pd., Bu Rahaditya Puspa Kirana, S.Hum., M.Hum., dan Pak Moh. Gandhi Amanullah, S.S., M.Hum. Adapun para dosen dari prodi Bahasa dan Sastra Inggris yang hadir ialah Bu Usma Nur Dian R., S.S., M.A., dan Bu Lina Puryanti, S.S., M.Hum. serta dosen dari prodi Bahasa dan Sastra Indonesia ialah Bu Dr. Adi Setijowati, Dra., M.Hum.

Acara tersebut dibagi ke dalam dua sesi. Di sesi pertama, Pak Vivek banyak membagikan tips-tips penulisan jurnal sembari memutarkan beberapa video tutorial penulisan jurnal ilmiah dari YouTube. Saat pembukaan acara, Pak Vivek menanyakan fokus penelitian dari masing-masing dosen, dan meminta mereka untuk membacakan abstrak masing-masing agar dapat diberi feedback. Beliau lalu mengklaim bahwa menulis jurnal internasional memang sulit, tapi bukan berarti mustahil: “Writing is more of a process, with a strong determination. It is how you deal with criticism. Think your arguments first before you write. What is important, you must never lose hope if your journal is rejected.” Pak Vivek mengungkapkan beberapa hal yang penting dalam proses penulisan jurnal, yakni bahwa kita harus memperhatikan interest atau ketertarikan penelitian kita, apakah isu yang kita angkat itu realistis atau tidak, gaya penulisan yang berbeda-beda untuk tiap jurnal dengan detail-detail kecil seperti gaya selingkung, jarak spasi, jenis font tulisan, dan lain sebagainya. Selain itu, Pak Vivek berkali-kali menekankan bahwa abstrak dan kata-kata kunci dalam sebuah jurnal merupakan aspek terpenting karena kedua bagian tersebut-lah yang selalu dilihat oleh reviewer dan pembaca pertama kali, dan karenanya abstrak harus ditulis dengan gaya bahasa yang menarik sekaligus informatif. Menggunakan analogi sandwich atau hamburger, Pak Vivek menjelaskan bahwa susunan jurnal sebenarnya dapat diibaratkan seperti jenis makanan tersebut, yakni ada abstrak, latar belakang, studi pendahulu, metode, analisis, kesimpulan, dan referensi. Seluruhnya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, yang memiliki fungsinya masing-masing.

Setelah memutarkan sebuah video yang berjudul “What to think about before you start to write a journal article” (Link: https://www.youtube.com/watch?v=fxYVyL_s3P0), Pak Vivek menekankan delapan poin penting dalam penulisan jurnal, yakni: 1) aims atau tujuan, 2) awareness atau kesadaran dalam penelitian kita, 3) scope atau bidang keilmuan dari tiap jurnal yang berbeda-beda, 4) kemungkinan plagiarisme dan self-plagiarism yang mungkin dapat merusak reputasi kita, 5) struktur penulisan jurnal, 6) objectives atau tujuan dari penelitian kita, 7) peer review, dan 8) pentingnya meminta masukan atau feedback/second opinions dari teman sejawat, kolega atau dalam konferensi. Menurut beliau, hal terpenting ialah kita dapat 1) menuliskan dengan jelas apa saja implikasi dari tulisan ilmiah kita tersebut, dan 2) apa signifikansi dari poin-poin yang kita buat di dalam tulisan kita tersebut. Kembali menyinggung soal abstrak, Pak Vivek berkata bahwa, “My mother used to say to me when I was still in elementary school: ‘First impression is the best impression’. Meaning, first impressions kill. That’s why you have to make your abstract interesting. Abstract is your selling point. Always reflect the so-what questions when you are writing this part.” Menurut beliau, hal yang paling efektif ialah menulis jurnal internasional menggunakan kalimat-kalimat aktif atau active voice. Pak Vivek menghimbau agar para dosen tidak menggunakan kalimat-kalimat pasif atau passive voice lantaran hanya akan membingungkan pembaca atau reviewer. “Use active voice in journals, because you have to be direct in communication,” ulang beliau. Lebih jauh lagi, Pak Vivek menekankan bahwa penting bagi para akademisi FIB untuk selalu memperhatikan research gap dari penelitian-penelitian terdahulu, sehingga penelitian mereka memiliki signifikansi yang dapat diperhitungkan oleh para pengelola jurnal internasional.

Pada sesi kedua, Pak Vivek masih membagikan sekaligus menjelaskan tips-tips penulisan jurnal, seperti penulisan judul yang menarik dan penulisan abstrak yang sebaiknya singkat namun padat. Pada sesi terakhir tersebut, Pak Vivek meminta para dosen FIB untuk menelaah dan memeriksa contoh-contoh abstrak dan latar belakang jurnal yang telah dibagikan sebelumnya, lalu menilai apakah abstrak tersebut termasuk layak publikasi atau tidak. Di sela-sela diskusi, beliau menegaskan bahwa latihan langsung tersebut dirasa sangat perlu lantaran hanya dengan cara demikianlah para doesn mampu merefleksikan diri apakah selama ini mereka telah mengikuti kaidah-kaidah yang efektif dalam menghasilkan artikel jurnal. Sekali lagi, Pak Vivek mengulangi lagi motto-nya, yakni bahwa dalam menulis jurnal, seseorang harus berani untuk “dream big, but start small”, yang artinya akademisi UNAIR sebaiknya wajib bermimpi besar dengan menarget publikasi internasional terindeks Scopus, namun mereka juga harus memperhatikan detail-detail dari aspek penulisan jurnal tersebut dan mengaplikasikannya ke dalam tulisan mereka, oleh karena aspek-aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap besarnya kesempatan jurnal-jurnal para dosen untuk diterima dan dipublikasikan. (ana/kkh)