Dr Tomas Petru Bahas Bahasa Revolusi dan Bahasa Reformasi di Hari Kedua Konferensi Linguistik

image

“THE 2ND INTERNATIONAL LINGUISTIC CONFERENCE OF UNIVERSITAS AIRLANGGA” (HARI KEDUA)

Konferensi Linguistik Hari Kedua di Fakultas Ilmu Budaya dengan Dr Tomas Petru

Acara hari kedua dari “The 2nd International Linguistic Conference of Universitas Airlangga”, yakni pada 18 Juli 2018 di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, diawali dengan pembukaan oleh Bu Nurul Fitri Hapsari, M.A., dan dimoderatori oleh Bu Viqi Ardaniah, M.A. Pada hari kedua tersebut, keynote speaker Dr. Tomas Petru, yang berasal dari Oriental Institute, Czech Academy of Sciences, Praha, mempresentasikan materinya yang berjudul “From bahasa revolusi to bahasa reformasi and beyond: Indonesian as a vital political and state-making tool”. Dalam kesempatan tersebut, Dr Petru berkata bahwa ini merupakan pertama kali dirinya diundang untuk menghadiri konferensi di Surabaya. Dr Petru juga menambahkan bahwa beliau telah mempelajari Bahasa Indonesia selama 5 tahun, namun terkadang masih juga mengalami kesulitan dalam menggunakan serta memahami kosa kata dari bahasa tersebut.

Dr Petru membahas mengenai trajektori Bahasa Indonesia dalam rezim politik yang berbeda-beda. Beliau membahas akar Bahasa Indonesia yang awalnya berasal dari Bahasa Melayu dengan bentuk normatif, dan kebanyakan masih berorientasi pada dialek Riau. Sementara itu, untuk Di tahun 1928, Bahasa Melayu akhirnya diadopsi oleh para nasionalis Indonesia dan diberi nama resmi sebagai Bahasa Indonesia, yang diapresiasi Dr Petru sebagai sebuah keputusan yang pandai. Selanjutnya, perkembangan political lexicon di Indonesia beliau anggap sebagai refleksi dari atmosfir sekaligus ideologi dari rezim yang tengah berkuasa pada era tersebut. Contohnya ialah tren istilah-istilah tertentu yang muncul pada zaman Revolusi (1945-49) yang sarat dengan makna pergolakan dan perjuangan kaum muda, seperti ‘perjuangan’, ‘diplomasi’, ‘bersiap’, ‘merdeka’, ‘kedaulatan’, ‘pejuang’, ‘pemuda’, ‘Bung’, ‘semangat’, dan ‘laskar’ yang sering sekali diserukan oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Berikutnya, di tahun 1950, Soekarno makin mengembangkan aspek retorik nasionalis dalam pidato-pidatonya, dan menekankan kata-kata seperti ‘jiwa nasional’, ‘kemauan nasional’, ‘tanah kramat’, ‘perjuangan politik’, ‘negara mulia’ dan sebagainya. Dr Petru menyoroti pula bahwa pada era tersebut, Soekarno lekat dengan julukan ‘penyambung lidah rakyat’ oleh karena perhatiannya yang besar terhadap organisasi massa dan rakyat jelata. Sebagai seorang polyglot alias ahli multi-bahasa, Soekarno menyisipkan banyak kata-kata dari bahasa-bahasa Eropa seperti bahasa Belanda, Inggris, Perancis dll ke dalam slogan-slogannya, contohnya: ‘Sosialisme a la Indonesia’, ‘tahun vivere pericoloso’, dan ‘Go to hell with your aid!’. Dr Petru lantas melanjutkan saat masa Demokrasi Terpimpin (1957-65), Orde Baru, dan Reformasi, bahkan sampai era saat ini, yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (yang berlangsung sejak 2014). Dr Petru menyebut bahwa terjadi perubahan yang cukup signifikan dari ‘Bahasa Pejabat’ pada era Soeharto, yakni kata-kata sejenis ‘proker’ (program kerja), ‘diklat’ (pendidikan kilat). ‘renstra’ (rencana strategis), ‘iptek’ (ilmu pengetahuan dan teknologi), ‘menegristek’ (Menteri Negara Riset dan Teknologi), ‘Ristekdikti’, ‘tupoksi’ (tugas pokok dan fungsi), lalu istilah ‘visi dan misi’.

Sebagai penutup, Dr Petru menjelaskan bahwa dengan kebebasan politik di berbagai daerah dan provinsi, meningkatnya aspek tribalisme atau sukuisme (patriotisme lokal), dan pertumbuhan teknologi yang sangat cepat di Indonesia, hal ini akan sangat mendukung munculnya inovasi-inovasi kosa kata baru yang mampu mewarnai keberagaman kata dalam Bahasa Indonesia. Selanjutnya, sesi pertanyaan dibuka dan lantas dilanjutkan dengan sesi presentasi panel.

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?