Deny A. Kwary, Ph.D. Bicarakan Multimodality dalam Kamus Bahasa Inggris di Hari Ketiga Konferensi Linguistik Internasional

image

“THE 2ND INTERNATIONAL LINGUISTIC CONFERENCE OF UNIVERSITAS AIRLANGGA” (HARI KETIGA)

Konferensi Linguistik Hari Ketiga di Fakultas Ilmu Budaya dengan Pak Deny A. Kwary, Ph.D

 

Pada hari ketiga dari “The 2nd International Linguistic Conference of Universitas Airlangga” yang berlangsung pada 19 Juli 2018 di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, pembicara utama yang mempresentasikan materinya ialah Pak Deny A. Kwary, dosen linguistik dari Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, dengan judul makalah “Current Issues in the Use of Multimodality in Monolingual English Learner’s Dictionaries”.

Sebagai ahli lexicography atau perkamusan, Pak Deny memberi contoh bahwa penting bagi penerbit-penerbit kamus seperti Oxford Dictionary, Longman, Collins, Cambridge, Macmillan, dan lain sebagainya untuk senantiasa memperbaharui isi kamus, yakni dengan memasukkan gambar (visual) dan suara (audio) agar dapat membantu para penggunanya untuk memahami arti dari kata yang tercatat di dalamnya. Hal ini dirasa krusial lantaran para pembuat kamus tersebut rata-rata merupakan orang Barat yang seringkali kurang familiar dengan kultur-kultur budaya di Timur, sementara kamus tersebut digunakan oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia, yang notabene juga seringkali kurang akrab dengan aspek-aspek tertentu yang amat dikenal di budaya Barat. Pak Deny memberi contoh istilah ‘helmet’ atau ‘helm’ dalam Bahasa Indonesia, yang artinya di negara-negara Barat ialah helm untuk sepeda kayuh (a biker’s helmet), sementara di Indonesia, helm lebih dikenal sebagai helm untuk sepeda motor yang bentuknya tentu sangat berbeda dari helm sepeda kayuh. Jika hanya ada kata ‘helmet’ saja yang tertera di kamus, maka akan menimbulkan perbedaan persepsi yang dipicu oleh perbedaan latar belakang kultur. Hal yang sama juga terjadi pada kasus hewan-hewan khas dari negara-negara Barat maupun Timur.

Pak Deny memberi contoh hewan koala dari Australia, yang dalam Oxford Dictionary, memiliki definisi sebagai “Hewan Australia yang memiliki bulu abu-abu tebal, telinga besar, dan tanpa ekor”. Walau dilengkapi illustrasi, bagi orang awam yang tidak pernah mengenal ataupun pergi ke Australia untuk melihat koala yang sesungguhnya, maka hal tersebut akan membingungkan karena mereka tidak tahu tepatnya seberapa ukuran koala tersebut. Sementara itu, di kamus Collins, koala dideskripsikan sebagai “Hewan Australia yang terlihat seperti beruang kecil dengan bulu abu-abu dan tinggal di atas pohon”. Walau telah disertai gambar berupa foto koala yang asli, tetap saja orang awam akan kebingungan dengan ukuran serta habitat asli dari hewan tersebut. Akhirnya, Pak Deny menunjukkan definisi koala dari Australian Cultural Dictionary, kamus yang tengah digarapnya, yang berbunyi “Hewan marsupial Australia yang panjangnya kira-kira 75 senti dengan bulu abu-abu tebal dan tanpa ekor, tinggal di atas pohon, dan memakan daun eukaliptus. Koala kadang dipanggil sebagai koala bears atau beruang koala, tetapi koala bukan beruang”. Deskripsi tersebut dilengkapi dengan contoh kalimat yang menggunakan kata koala, link mengenai berita tentang koala, serta foto hewan koala di atas pohon kayu putih dan tengah disentuh oleh seorang pria yang berdiri di dekatnya. Pak Deny menjelaskan bahwa dengan deskripsi, audio, serta gambar yang jelas seperti itulah yang dapat memberikan gambaran yang lengkap bagi penggunanya.

Saat dilanjutkan dengan sesi pertanyaan, banyak peserta yang antusias bertanya, termasuk salah satu dari keynote speaker asing yang diundang, yakni Jeff Bezemer. Pak Deny juga melanjutkan sedikit penjelasannya bahwa kata-kata tertentu yang mengandung aksi seperti ‘tackle’ harus disertai dengan video singkat untuk menjelaskan arti dari aksi tersebut. Selanjutnya Almira Fidella Artha dari Universitas Airlangga juga menanyakan mengenai seberapa penting keberadaan audio atau video dalam menjelaskan istilah-istilah yang sangat khas Indonesia seperti ‘bambu’, ‘keris’, ‘parang’, dan lain sebagainya. Setelah semua pertanyaan terjawab, sesi tersebut ditutup dan dilanjutkan dengan sesi presentasi panel yang dilaksanakan di dalam ruang-ruang kelas.

Open chat
Ada yang bisa kami bantu ?