IKUTI IACS SUMMER CAMP, DELEGASI FIB PELAJARI ISU MUTAKHIR DALAM FILM DAN MASYARAKAT URBAN DI ASIA

image

Dua dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Kukuh Yudha Karnanta dan Pujo Nur Sakti, mengikuti Inter-Asia Cultural Studies Summer Camp 2018 di Jadavpur University, Kolkatta-India 18 Juli-30 Juli 2018. Mengusung tema Calcutta: City/Contemporaneity fokus membahas isu-isu mutakhir dalam urban studies serta relasinya dengan produk-produk budaya seperti festival, film, dan lainnya. Berikut adalah laporan tertulis keikutsertaan delegasi FIB Unair yang juga satu-satuna wakil dari Indonesia, dalam acara yang diselenggarakan oleh konsorsium ilmuwan dan peneliti kajian budaya tersebut.

IACS Summer Camp diikuti oleh kurang lebih 45 peserta dari Hongkong, Jerman, Belanda, India, Amerika, Philipina, Singapura, dan Indonesia. Sebagian besar peserta berasal dari kalangan peneliti dan dosen di bidang Kajian Budaya.

Acara pembukaan oleh panitia yg diisi dengan ceramah bertema Durga Puja: Tour and Travel yang disajikan oleh Tapati Guha. Pembicara berfokus pada ritual perayaan Durga Puja, semacam seremoni perayaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Kalkuta, baik yang beragama Hindu maupun non-Hindu. Pada hari perayaan itu, setiap orang bebas mengekspresikan dirinya, tentunya dalam norma-norma kebudayaan yang berlaku. Ritual ini, menurut pemateri, bersifat genderless dan mengatasi perbedaan kelas/kasta sehingga tidak ada segegrasi kelas/gender saat perayaan. Mereka yang berasal dari upper class akan dengan senang hati mendermakan sebagian kekayaannya; mereka yang berasal dari working class dan lower class akan mendermakan apa yang mereka bisa: tenaga, karya (lukisan, patung, poster, dan segala yang merepresentasikan Durga). Maka, bagi masyarakat Kalkuta, mengutip Tapati, Durga Puja yang membutuhkan ongkos/biaya relatif besar itu merupakan suatu praktik yang menguatkan kohesi sosial.

Sesi pertanyaan berjalan hangat dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti, pertama, apakah kohesi sosial yg dimaksud bersifat permanen; atau justru setelah perayaan selesai, mereka toh akan kembali pada posisi semula. Artinya, Durga punya tidak lebih dari sekadar ritual sementara, sehingga kohesi sosial yang dibayangkan pun bersifat semu, alih-alih signifikan. Kedua, pertanyaan tentang apakah ada model/standar visualitas Durga. Beberapa di antaranya digambarkan memiliki sepuluh tangan, beberapa lagi hanya delapan, dan apakah ‘tubuh’ Durga merupakan model ideal bagi perempuan di Kolkata. Fakta bahwa visualitas Durga ternyata juga digunakan untuk iklan produk telepon, kecantikan, dan produk-produk lainnya mengindikasikan bahwa tidak berlebihan untuj menyebut Durga sebagai salah satu penanda signifikan bagi masyarakat Kalkuta. Namun, seperti mungkin juga terjadi pada kebudayaan lain, sosok Durga yang katakanlah ‘sakral’ juga mengalami pergeseran fungsi: tidak hanya dipuja, tapi juga digunakan untuk hal-hal yang bersifat komersial. Tapati Guha mengatakan respon dari audiens peserta summer course sangat produktif dan membuatnya berpikir untuk melakukan penambahan/penyempurnaan pada hasil kajiannya.

Di hari berikutnya, acara dilanjutkan dengan paparan Prof Audrey dari NUS yang mempresentasikan tentang “Communicative City”, dengan studi kasus di Melbourne dan Singapore. Paparan Audrey didasarkan pada dua pertanyaan utama yakni: bagaimanakah tata ruang/tempat, di mana masyarakat mengalami kondisi-kondisi kehidupan sehari hari, membentuk pola komunikasi dan bagaimana mereka dibentuk oleh komunikasi. Kedua, bagaimana komunikasi memediasi implikasi dari penataan ruang kota itu terhadap kehidupan individu di dalamnya, termasuk identitas diri, rasa keterikatan sebagai sesama warga, serta kehidupan fisik dan mental mereka.

Prof. Audrey Yue berasumsi bahwa ada perubahan dan pergeseran makna komunikasi dalam apa yang dia sebut sebagai “City as a communicative environment. Kedua, dia percaya bahwa “City enable new forms and practices of communication. A. Scale of cities. B. Diversity and mobility. C. Ubiquittous digital media platforms.”

Dengan menawarkan konsep “ambient participation: phenomenology of embodiment Audrey berpendapat bahwa alihalih seseorang pasif dalam mencerap kondisi ruang hidup di sekitarnya, konsep ini menganggap bahwa yg diperlukan justru partisipasi aktif. Kota, dalam pemahaman ini, harus mampu menyediakan atau menghadirkan ruang-ruang yang memungkinkan adanya pengalaman-pengalaman yang membuat warganya tidak hanya mengalami tapi juga memberikan feedback serta mereproduksi dan mengartikulasikan ekspresinya terhadap pengalaman dan tata ruang kota tersebut. Audrey menyebutkan beberapa prinsip tata ruang kota yang bisa diajukan yakni: heritage conservation, ecological restoration, artistic production, dan cultural programming yang dihadirkan secara jelas dan berkelanjutan di ruang-ruang publik agar apa yang ‘artistik’ dan yang ‘cultural’ tertangkap lebih jelas pesan artistik yang dikomunikasikannya. Tujuannya jelas: pada gilirannya, publik mendapatkan sesuatu yang bersifat positif dan reproduktif, bagi fisik maupun mental mereka.

Panelis lainnya adalah Anjeline De Dios (Lingnan University), His Master’s Voice: Cinematic Sonicities Of Authority In The Philippine Drug War; Roberto Castillo (Lingnan University), Out of Place in a Chinese Village: Urban Transformations and Precarious Migrant Bodies. Soo Ryon Yoon (Lingnan University), Performative Tactics: Camp or a Place that Became the Dead and Garibong’s Informal Survival. Masing-masing memaparkan kondisi perkotaan di negara dan kota lainnya seperti di Hongkong, Manila, dan China. Di Manila, misalnya, rezim Duertete yang keras terhadap para pengedar narkoba, menginspirasi beberapa sineas, seperti Briliante Mendoza, dalam berkarya. Yang menarik adalah, dalam karya-karya Mendoza, peredaran narkoba tidak ditampilkan secara hitam-putih. Tokoh-tokoh utama dalam film Mendoza umumnya remaja dari lower class yang sedang dalam pencarian jati diri: yatim piatu yang ingin menjadi seorang rapper dengan cara menjadi kurir narkoba; dan lainnya. Film tersebut menampilkan dialog dialog yang bernas yang menunjukkan perbedaan persepsi terhadap modernitas antara yang-tua dan yang-muda di mana narkoba menjadi konteks yang tak dapat dielakkan.

Diskusi menghangat seputar asumsi dasar dari teori yang ditawarkan Audrey. Teori Audrey, oleh beberapa partisipan, dianggap dibangun dari asumsi dasar ada ‘yang-tidak-terkomunikasikan’/uncommunicative. Asumsi tersebut agak problematik jika melihat, misalnya, apa yang terjadi di Bangkok dan Indonesia, di mana problem yang mengemuka lebih pada ‘misscommunication’. Komunikasi yang dilakukan oleh beberapa kelompok akan dipersepsi dan direaksi berbeda oleh kelompok lainnya yang memiliki afiliasi politik, pandangan, norma, dan latar belakang sosio-kultural lainnya. Dengan kalimat lain, apa yang dibayangkan Audrey sebagai ‘ambient participation’ memprasyaratkan kondisi yang ‘netral’ atau setidaknya tanpa-konflik, sedangkan beberapa tempat di Asia, yang terjadi tidaklah demikian.

Di hari berikutnya, panel menghadirkan tema genre ‘film-detektif’ sebagai salah satu film terpopuler bagi masyarakat Kalkuta yang disampaikan oleh Kaushik Bhaumik (School of Arts & Aesthetics, JNU, New Delhi) dengan paparan A City of Detectives: Calcutta in the Global Division of Intellectual Labour.

Dalam panel ini dijelaskan oleh pemateri bahwa film detektif, berikut juga novel detektif, telah ada sejak Bengali (Kolkatta) menjadi Ibu kota India di masa kolonial. Kaushik berpendapat bahwa meskipun genre detektif bukan hanya ada di Bengali cinema, dan fakta bahwa terdapat pengaruh sinema eropa, namun ada yang khas dalam genre detektif di Bengali cinemas. Yakni, kuatnya isu-isu tentang nasionalisme, dialektika antara nilai-nilai tradisi India sebagai suatu warisan di satu sisi, dan harga diri masyarakat Bengali yang mengedepankan rasionalisme, humanisme, yang merupakan derivasi dari modernisme. Tidak jarang pula film detektif menggambarkan kondisi pemerintahan yang tiran, korup, lemah, sehingga sosok detektif yang cerdas, rasional, dan berpikiran modern sebagai sosok yang mampu mengubah keadaan. Uniknya, jika dalam banyak film detektif tujuan utama adalah mengungkap ‘kebenaran’ dari suatu peristiwa atau tekateki, maka konsep ‘kebenaran’ dalam film film detektif Bengali tidaklah sama dengan film detektif, katakanlah seperti Sherlock Holmes yang bersifat empiris dan positivistik. Kebenaran dalam film film detektif Bengali lebih mengarah pada, tutur Bhaumik, ‘the brahmanical term Satya..truth has a more abstract spiritual sense than western notions of legal/philosophical empirical truth.’

Sosok detektif, dalam konteks Bengal Cinema, dianggap sebagai representasi dari ‘Bhadralok’ yakni suatu konsep tentang tokoh yang merepresentasikan rasionalitas abad pencerahan. Bhamik menjelaskan Bhadralok sebagai ‘an island of modernist rationality in a vast ocean of sensory confusions, mostly sexual or political.’

Sampai pada titik ini dapat dipahami bahwa film, dalam masyarakat Kolkata, bukan hanya dipandang sebagai objek tontonan semata, melainkan digunakan sebagai media membentuk cara pandang masyarakat kota tersebut yang, menurut Bhamik, berada dalam transisi dan rekonsiliasi yang belum selesai antara tradisi kebaikan dan kemuliaan Brahmanian dengan halhal yang bersifat rasional dan modern. Keduanya tidak dipahami sebagai sesuatu yang saling beroposisi, melainkan berusaha saling bernegosiasi dengan terdapat irisan-irisan antara keduanya seperti ditunjukkan dalam film Detective Byomkesh Bhaksy.

Sesi film semakin menajam saat di hari berikutnya panel menghadirkan diskusi dan screening Film Garbage. Director: Q. Film ini merupakan jenis film ‘festival’ yang mana narasi maupun sinematografinya relatif berbeda dengan film-film industri lainnya.

Film ini bercerita kehidupan working class di Kolkata. Cerita bergulir saat tokoh utama, Rami, panik ketika video threesome dirinya diunggah oleh seseorang di media sosial. Mencoba lari dan menghindar dari lingkungannya, ia bertemu dengan Phaniswar, sopir yang melayani antar-jemput untuknya di lingkungan yang baru. Sopir tersebut memiliki seorang pembantu yang bisu-tuli bernama Nanaam, yang digambarkan terantai dan mengenakan baju ala kadarnya (sulit untuk tidak mangasosiasikannya seperti anjing).

Secara umum film ini lebih banyak menampilkan kekerasan baik fisik, seksual, psikis, maupun simbolik. Kekerasan fisik ditunjukkan dengan perempuan yang dirantai, tubuh yang disetrika, dan lainnya. Kekerasan seksual ditunjukkan oleh sodomi yang dilakukan Rami (dengan menggunakan dildo) kepada Phaniswar yang diamdiam mengetahui video threesome Rami. Disebut kekerasan karena tindakan tersebut dilakukan dengan paksaan dan ancaman. Kekerasan simbolik ditunjukkan dalam adegan ketika Phaniswar yang menderita penyakit kelamin menerima tanpa syarat perlakuan guru spiritualnya yang memintanya melakukan oral seks sebagai ritual untuk kesembuhan dirinya.

Dengan banyak menampilkan gambar daerah slum yang kotor dan penuh sampah, kehidupan masyarakat kelas bawah, dan hal hal yang oleh masyarakat ‘normal’ dianggap, katakanlah, problematik (lesbian, homo, kekerasan, penyiksaan), sulit untuk tidak mengasosiasikan tokoh-tokoh berikut problem yang mereka hadapi mengacu pada judul film ini: garbage, atau setidaknya dianggap demikian oleh sutradaranya. Hampir seluruh tokohnya tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan tindakan yang mereka lakukan justru mengarah pada konflik baru yang tak selesai.

Sutradara, Q, pada sesi diskusi mengatakan bahwa 10 tahun dirinya hidup di Kolkata, dia merasa bahwa kota tersebut memberinya insight dan energi kreatif yang produktif: 11 film dalam 10 tahun. Bahwa Kolkata memiliki dimensi ‘noir’ seperti halnya film Garbage, hal itu adalah statement dia sebagai seorang filmmaker yang melihat kota dan kehidupannya dari sudut pandang tertentu.

Film Garbage disebut sebagai film di luar mainstream, dan menjadi contoh bahwa proses kreatif para sineas muda di Bengali senantiasa bergeliat. Sebelumnya, Subhajit Chatterjee (Jadavpur University) dan Ashish Rajadhyaksha memberi pengantar dalam panel bertajukTradition Under Siege: Obscene and Degraded Images in/of Kolkata’s New Cinemas.
Keduanya banyak memaparkan bahwa komunitas-komunitas film di India semakin beragam dengan cara-cara produksi yang ‘unik’. Yakni, sex dan drugs selama pembuatan film, problem sensor yang ketat, namun publik juga bisa mendapatkan kumpulan potongan-potongan sensor tersebut, kebanyakan berupa gambar ketelanjangan, darah, dan kekerasan. Versi film dalam cakram DVD, khususnya versi copy, justru seringkali dicari karena di dalamnya tidak ada sensor. Dengan kata lain, keping copy DVD yang beredar di pasaran justru menjadi semacam situs penyimpanan film-film tanpa sensor.

Panel ini juga berargumen bahwa pengaruh Tagore, yang karya-karyanya banyak diadaptasi dalam film-film romantis dan sentimental India, kini masih terasa. Beberapa film produksi baru juga mengadaptasi karya-karya Tagore, semisal film Charulata, namun dengan penyesuain konteks zaman kekinian, yang menurutnya secara kualitas justru menurun. Film-film tersebut, dalam pemahaman Subhajit, tidak jauh berbeda kelasnya dengan sinetron-sinetron India yang masih sangat sederhana dan terkesan ‘menggelikan’ untuk ditonton. Demi menyelematkan kemahsyuran nama Tagore dan karya-karyanya, Pemerintah India bahkan sempat membeli kembali hak cipta atas karya-karya Tagore selama beberapa tahun agar tidak dengan sembarangan (mungkin juga serampangan) diadaptasi oleh sineas-sineas India kekinian.

juga  6
Nonton film

Panel juga menghadirkan sesi diskusi dan nonton film berjudul Shatranj Ke Khiladi/The Chess-Players (1977) yang diwawancarai Satyajit Ray. Film ini bercerita tentang salah satu sejarah kolonial Inggris di Kolkata. Mengambil latar tahun 1850an, film ini menunjukkan bagaimana hegemoni kerajaan Inggris pada raja-raja di India saat itu. Kehidupan keluarga kerajaan digambarkan sebagai orang yang ‘sibuk’ dengan permainan catur (disebut berasal dari India namun aturannya sedikit diubah oleh kolonial Inggris) menikmati tarian dan puisi, dan gentar bila harus berhadapan dengan militer Inggris. Proses pengambilalihan takhta kerajaan digambarkan berjalan mulus tanpa ada kekerasan, karena keluarga Raja menerima kompensasi yang diberikan oleh kerajaan Inggris, meskipun penerimaan tersebut tidak total. “You can take my crown, but you can not take my signature,” ujar Sultan.

Film tersebut disutradarai oleh salah seorang legenda sinema India yakni Satyajit Ray dan naratornya adalah Amitabhachan. Jika film film India kekinian lebih eksplisit merepresentasikan nasionalisme dan sikap kritisnya terhadap warisan kolonial India, film ini seakan suatu satire, kritik yang teramat halus namun sesungguhnya tajam dalam menggambarkan pasrahnya keluarga kerajaan terhadap pemerintah kolonial Inggris. Sinema dan sineas memang senantiasa berkembang dengan membawa semangat zaman masing-masing.

Delegasi FIB juga berinisiatif mengunjungi National Museum India. Di museum bergaya arsitektur Eropa itu terdapat banyak koleksi dari Jawa, seperti patung Garuda dan Ganesha yang dipajang di sana.

Kata kunci dalam summer course ini, seperti tajuknya, adalah kinetik: energi yang dimiliki oleh benda yang bergerak. Barangkali terkesan positivistik. Tapi sesungguhnya bermakna sangat kompleks. Maka, kecepatan suatu kota dalam mencerap perubahan, di saat yang sama pemahaman terhadap sejarah, kepekaan dalam literasi media dan budaya, serta kualitas “massa” yang ada di dalamnya, menjadi suatu hal tak terelakkan yang penting dipelajari, dipahami, dan diprediksi. Keikutsertaan delegasi FIB Unair dalam acara ini merupakan upaya dari komitmen FIB yang senantiasa mengikuti dan terlibat secara aktif dalam perkembangan keilmuan Kajian Budaya khususnya di Asia. (kukuh)