DISKUSI SELAWEAN: ADA APA DENGAN PUISI DI INDONESIA?

image

PRESS RELEASE

DISKUSI SELAWEAN: ADA APA DENGAN PUISI DI INDONESIA?

Pada hari senin tanggal 30 April 2018 bertempat di ruang Siti Parwati telah berlangsung diskusi rutin “Selawean” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kajian Aksi Strategis BEM FIB Universitas Airlangga. Diskusi selawean kali ini mengangkat tema “Ada Apa dengan Puisi di Indonesia?” bersama Dr. Ida Nurul Chasanah, S.S., M. Hum dan Kukuh Yudha Karnanta, S.S., M.A. selaku pemateri.

Mengapa puisi Ibu Indonesia yang dibacakan oleh Sukmawati pada acara pagelaran busana Anne Avantie menjadi bahan perbincangan yang ramai? Banyak kelompok yang menganggap tindakan tersebut tidak patut karena menghadirkan agama dalam nuansa yang tidak pada tempatnya. Pada puisi tersebut terdapat beberapa konten budaya Indonesia yang dibandingkan dengan unsur atau identitas suatu agama. Hakikat sebuah karya sastra adalah memberikan ilmu, kebermanfaatan bagi pembacanya, nilai keindahan, dan lain sebagainya, namun apabila sebuah karya sastra dianggap membawa isu sensitif dan meresahkan masyarakat maka karya sastra tersebut dapat dianggap tidak menawarkan rasa kemanusiaan.

Puisi tersebut pada akhirnya memberikan pukulan kepada Sukmawati sendiri meskipun mungkin saja yang dimaksudkan dalam puisi tersebut adalah suara hati atau ketakutan akan budaya Indonesia yang mulai ditinggalkan dan digantikan dengan budaya lain. Namun alangkah lebih baiknya apabila perbandingan yang dihadirkan dalam puisi tersebut tidak menyinggung isu sara. Menurut pemateri, tidak ada politik sastra yang terjadi dalam kasus ini melainkan politik Sukmawati untuk menyampaikan sesuatu, di mana Sukmawati ingin menyampaikan keresahannya melalui puisi tersebut untuk golongan tertentu.

Polemik isu sara pada puisi karya Gus Mus yang dibacakan oleh Ganjar Pranowo, novel Ghost Fleet karya PW Singer dan August Cole yang menceritakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia telah hancur, pernyataan pengamat politik sekaligus dosen filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, tentang kitab suci adalah fiksi. Tiga peristiwa tersebut secara liar menjadi perbincangan hangat di Indonesia akhir-akhir, hal tersebut menunjukkan krisis daya literasi. Yang dimaksudkan dengan daya literasi di sini ialah kemampuan menafsirkan dan mereproduksi informasi atau konten dalam karya sastra. Masyarakat dewasa ini perlu menafsirkan kembali secara objektif dan mengkonfirmasi berita yang mereka terima sebelum mereproduksinya kembali dalam bentuk pernyataan di media sosial.

Puisi Ibu Indonesia menjadi pembicaraan hangat dikarenakan dibacakan oleh seorang elit politik, begitu pula dengan ketiga peristiwa lain yang hadir bersamaan dengannya. Lalu muncul pertanyaan, apakah seorang elit politik tidak boleh mengutip karya sastra dalam pidatonya? Siapa saja bebas berkarya dan menikmati sastra dalam bentuk apapun. Soekarno sering mengutip kisah pewayangan, Gus Dur pun sering membacakan puisi kemanusiaan.

Sukmawati menegaskan bahwa puisi yang menuai polemik saat ini merupakan sajak dari salah satu kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang terbit pada tahun 2006, namun buku tersebut tidak ber-ISBN sehingga tidak dapat diketahui informasi mengenainya serta sampai sekarang belum ada bukti fisik yang menunjukkan bahwa buku tersebut memang pernah terbit. Aspek pembacaan sangat diperlukan melalui hakikat ekspresi penyair, teks yang menjabarkan dunia dalam dan luar isi teks, serta refleksi kenyataan eksplisit dalam penilaian sebuah karya sastra apabila sebuah karya sastra tersebut mengganggu kenyamanan pembaca.

Tolak ukur bernilai tidaknya sebuah puisi dapat diketahui dari jarak estetis yang panjang, bernilai literel, dan masih banyak lagi penilaian terhadap karya sastra tersebut. Kemanusiaan memiliki kadar dan pandangan berbeda pada setiap manusia serta tidak dapat dihadapkan dengan baik buruknya sebuah puisi. Namun secara menyeluruh, diketahui bahwa objektifitas manusia tetap saja subjektif.

Keuntungan dari polemik puisi Ibu Indonesia adalah banyak sekali data tentang resepsi puisi tersebut yang berguna untuk peneliti sastra, kritikus sastra, dan akademisi yang tertarik untuk meneliti studi kasus tersebut secara lebih dalam. Sastra tidak semestinya dipandang serta-merta sebagai fiksi, karena sastra di sini tidak berperan sebagai khayalan semata, melainkan menggambarkan sebuah keadaan zaman dan kehidupan sosial-kultural sebuah masyarakat. Melalui puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang berkaitan dengan agama apabila dibenturkan dengan hal lain maka permasalahan tersebut tidak akan pernah selesai.