FORUM INTELEKTUAL INSPIRATIF: RELASI ANTARA ALUMNI DAN MAHASISWA FIB

image


Forum intelektual merupakan program diskusi yang mewadahi para mahasiswa FIB yang berprestasi dalam dunia kepenulisan, student exchange dan karya ilmiah untuk mendorong teman-teman mahasiswa agar makin aktif mengembangkan potensi diri.
Kementrian Kajian Aksi Strategis BEM Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga pada hari Senin (19/3) pukul 15.00 WIB, mengadakan acara “Forum Intelektual: Memberi Inspirasi, Menggapai Prestasi”, yang bertempat di ruang Chairil Anwar, Fakultas Ilmu Budaya.
Dalam acara ini turut mengundang Hudha A. Rohman, S.Hum, selaku penulis buku “Jurus Sakti Jadi Mahasiswa Berprestasi” serta Mawapres FIB periode 2012-2013. Juga turut hadir Fransiska Berliani selaku English Debater, serta Delegasi Universitas Airlangga untuk Harvard World Model United Nations di Kanada pada tahun 2017. Selain itu, acara ini juga mengundang Moch. Sholeh Pratama selaku penulis opini media massa dan ketua umum KPMBS.
Moch. Sholeh Pratama, selaku pembicara pertama, memberikan tips-tips menarik bagi peserta yang berminat untuk menulis opini media massa. Mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2016 ini mengaku telah mulai aktif menulis untuk media massa sejak ia masih berstatus mahasiswa baru. Ia menyatakan bahwa kunci sukses menulis opini media massa adalah kekayaan wawasan dan kosakata.
“Untuk menulis opini, harus banyak-banyak membaca, karena dengan rajin membaca maka wawasan dan kosakata kita akan berkembang,” imbuhnya.
Moch. Sholeh juga mengemukakan pentingnya membaca tulisan-tulisan dari penulis yang disukai. Tulisan-tulisan tersebut dapat dijadikan panduan dan sumber inspirasi untuk menulis. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa inspirasi penulisan opini juga dapat digali dari momen-momen bersejarah.
Selain tips-tips menulis opini dengan baik, Moch. Sholeh juga menjelaskan mengenai manfaat-manfaat dari menulis opini untuk media massa. Manfaat-manfaat tersebut antara lain adalah kita dapat memanfaatkan dan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat selama kuliah.
“Menulis opini untuk media massa juga dapat menjadi salah satu cara untuk membanggakan almamater,” tambahnya.
Moch. Sholeh mengakhiri penjelasannya dengan memberikan penjelasan mengenai teknis pengiriman tulisan ke media massa.
Sementara itu, Fransiska Berliani selaku pembicara kedua, menjelaskan mengenai kiat-kiat agar dapat lolos mengikuti program student exchange dan konferensi internasional. Mahasiswi Sastra Inggris ini mengungkapkan bahwa motivasi utama yang wajib dimiliki untuk dapat sukses mengikuti student exchange dan konferensi internasional adalah prinsip refuse to be average serta terus berusaha meningkatkan kualitas diri. Selain itu, mahasiswa juga harus aktif mencari informasi dan peluang serta mempersiapkan diri dan membekali diri dengan wawasan yang cukup sebelum mengikuti program student exchange atau konferensi internasional.
“Yang terpenting adalah jangan mudah putus asa dan menyerah bila menemui kegagalan. Bila gagal harus terus mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil,” tegasnya.
Sementara itu, Hudha A. Rohman selaku pembicara ketiga, menjelaskan tips-tips menulis karya tulis ilmiah yang baik dan benar. Alumni Sastra Indonesia FIB UNAIR mengakui bahwa passion-nya memang menulis. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa S2 Universitas Padjadjaran ini juga mendorong peserta untuk memaksimalkan mengasah skill selama kuliah dengan banyak mengejar prestasi dan berorganisasi.
“Skill seperti public speaking dan kemampuan berorganisasi akan sangat dibutuhkan ketika kalian telah lulus kuliah dan terjun ke masyarakat,” terangnya.
Forum diskusi ini ditutup dengan sesi diskusi dan closing statement dari masing-masing pembicara. Closing statement dari Hudha A. Rohman ialah bahwa mahasiswa selama masih berada di bangku kuliah harus berusaha untuk aktif berorganisasi dan berprestasi. Sedangkan Fransiska Berliani menyatakan bahwa prioritas mahasiswa haruslah mengembangkan diri semaksimal mungkin dan berusaha menjadi yang terbaik. Sementara Moch. Sholeh menutup dengan pernyataan bahwa semua mahasiswa sebenarnya memiliki kemampuan intelektual yang sama, tinggal bagaimana mahasiswa tersebut mengasah kemampuannya menjadi lebih baik.