TEATER GAPUS MEMENTASKAN NASKAH SAMUEL BECKETT

image

Perdebatan sengit tersaji secara humoris dalam salah satu adegan dalam pentas tersebut: apakah mereka memilih menjadi warga negara yang baik dan melanjutkan upacara, atau memilih melaksanakan ibadah dahulu karena takut disiksa di neraka
Teater Gapus Surabaya menyelenggarakan acara “Pentas Lab” pada Kamis (15/3) yang bertempat di Ruang W.S. Rendra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Acara ini terbilang sukses menilik banyaknya penonton yang hadir untuk menyaksikan pementasan tersebut.
Dalam Pentas Lab kali ini, Gapus mementaskan dua naskah drama yakni “Bencana” dan “Penghormatan Terakhir”. “Bencana”, karya Samuel Beckett, disutradarai oleh Vita. Kombinasi musik dan lighting yang apik berhasil memukau penonton. Hal ini terbukti dari applause meriah yang diberikan penonton di akhir pementasan “Bencana”.
Selanjutnya, pembawa acara meminta penonton untuk keluar dari W.S. Rendra untuk break selama lima belas menit sementara tim Gapus mempersiapkan ruangan untuk pementasan selanjutnya, yakni “Penghormatan Terakhir”.
“Penghormatan Terakhir” berlatar waktu pada tahun 1946, dimana kondisi negara Indonesia masih belum stabil dan banyak terjadi serangan musuh serta peperangan. “Penghormatan Terakhir” merupakan karya dari Dede A. Majid, dan dalam pementasan kali ini disutradarai oleh Adnan.
“Penghormatan Terakhir”, walaupun dipentaskan dengan humor segar yang mampu memancing tawa penonton, menyoroti permasalahan yang serius yakni warga negara yang dihadapkan pada dua pilihan sulit: memilih agama atau negara.
Dalam salah satu adegan “Penghormatan Terahir”, dilema “agama atau negara” tersebut nampak ketika warga sedang melaksanakan upacara bendera untuk menghormati dan mengenang jasa pahlawan serta membuktikan kesetiaan mereka kepada negara. Di tengah upacara, tiba-tiba adzan berkumandang. Terjadi perdebatan sengit yang disajikan secara humoris apakah mereka memilih menjadi warga negara yang baik dan melanjutkan upacara, atau memilih melaksanakan ibadah dahulu karena takut disiksa di neraka. Pada akhirnya, pementasan ini berakhir saat salah satu warga dengan tegas memilih melaksanakan ibadah terlebih dahulu.
“Buat apa hidup mulia di dunia tapi kelak disiksa di neraka,” tegasnya, yang kemudian diamini warga lainnya.
Terdengar riuh rendah tepuk tangan penonton di akhir pementasan “Penghormatan Terakhir” yang berhasil menyajikan sebuah dilema serius dengan gaya komedi.
Pentas Lab 2018 pun akhirnya ditutup setelah pembawa acara meminta semua aktor dan kru pementasan untuk maju dan disambut tepuk tangan meriah penonton.